Saturday, 21 March 2020

Sesebentar Sementara

Perihal pertanda, semesta tiada tua
Disebarkannya ke seluruh dunia
Diselipkannya ke sudut sibuk kota
Diterbangkannya ke jauh cakrawala

Saturday, 29 February 2020

Dibahagiakan Takdir

            Tak ada yang membuat lebih cemas daripada ketidakpastian. Padahal, satu-satunya yang pasti di dunia ini adalah ketidakpastian. Namun, tetap saja, ketidaktahuan tentang sesuatu yang akan terjadi sering kali membuat risau sendiri. Tentangmu, juga begitu. Terlebih, memang tentang kita.
            Pernah kukatakan jika suatu kala dirimu kembali hadir di hidupku, akan kucintai kau lebih dari sebelumnya dan akan kuperjuangkan kau berkali-kali lipat dari yang selama ini telah kulakukan. Sayangnya, aku tak memiliki banyak waktu. Serupa angin, kubilang tentangmu, memang benarlah begitu. Manasuka kaupergi dan aku akan kehilangan lagi.
            Sudah aku mencintaimu dengan melepaskan, dengan membiarkanmu terbang bebas tanpa pernah sekali pun menahan. Sudah aku hanya melihatmu berlari tanpa pernah memintamu berhenti dan menoleh kepadaku lagi. Sudah aku memastikan kau berbahagia tanpaku di hidupmu yang menyenangkan bersama dirinya.


Friday, 24 January 2020

Keajaiban Kedua

Ada sesak yang mendesak
Ingin hati berteriak
Entah mengapa, pada apa
Taktahu apa-apa

Hingga tiba masa
Tatkala kau menyapa
Mencariku di mana
Menyirat jumpa

Adalah Tuhan yang telah
Menuntun hatimu yang lelah
Menujuku yang gelisah
Sampai hilang yang resah

Menangislah, menangislah
Bersamaku seperti kita pernah
Meski bukan aku sandarmu
Kita selalu saling menahu

Thursday, 12 December 2019

Semenjak Kau Tak Ada

            Langit begitu gelap, seakan-akan takingin membirukan hatiku yang berselimut kelabu kabut. Seolah-olah dengan begitu, aku tak lagi menatapnya, mengarahkan pandang entah ke mana, menembus cakrawala, dengan benak yang mengembara pada masa lalu, kala semuanya masih ada. Kini, semua tinggal kilas memori semenjak kau tak ada.
            Derau terdengar sedikit menggetarkan sanubari. Rintik hujan dan embusan angin sekelebat tampak bertelingkah meningkahiku yang terus melangkah. Takpeduli basah, biarlah sudah, layak biasanya aku tidak berteduh untuk mengeringkan apa-apa yang basah, termasuk luka jua berbagai kata pernah. Tanpa lelah tanganku menadah, menangkup membentuk wadah, untuk segala pesan dari sepenggal pisah. Kukatup rapat bibir agar tidak melontarkan kesah semenjak kau tak ada.

Friday, 22 November 2019

Keniscayaan

Engkaulah keniscayaan
Yang sejak kali pertama
Mataku terpaku menatap
Sanubari ingin menetap

Engkaulah keniscayaan
Yang semenjak semula
Jantungku gemar berdebar
Firasat menggelombang getar

Engkaulah keniscayaan
Kendatipun raga kita 
Saling berlawanan
Jiwa kita berhadapan


THEME BY RUMAH ES