Saturday, 2 December 2017

Matriks

Apa yang terpisah menyatu
Melebur membentuk satu
Apa yang tadinya dua
Tercampur menjadi satu

Semua perasaan tercampur
Tak terpisahkan
Harapan dan kenyataan
Tak lagi berhambur

Merata, menyebar seluruh ruang
Menempati kisi dan melayang
Saling mengisi dalam hilang
Mewujud tak lagi bayang

Saturday, 4 November 2017

Transit

            Pernah suatu ketika, aku meminta, memohon untuk diperlihatkan seseorang yang mungkin tepat. Setelah semua yang kulewati, entah apa yang salah, sosok yang tidak tepat atau justru waktu yang tidak tepat. Dia yang kucintai selama ini pergi begitu saja, seperti kilat yang pergi setelah menyambar hati sesaat. Aku hanya ingin tahu siapa sebenarnya yang paling tepat. Aku ingin melihat sekali saja, teramat sangat. 
            Aku tak pernah menyangka ketika akhirnya bisa melihat sosok yang tak pernah kutemui sebelumnya. Benakku bertanya-tanya, apakah kau adalah sosok yang kuminta dahulu kala? Apakah kau adalah perwujudan dari segala harap dan doa? Ada bahagia yang hadir meski diiringi perasaan getir. Jika kau ternyata datang, perasaanku pada dia harus segera hilang. Namun, bagaimana mungkin? Aku mencintainya hingga waktu yang entah kapan dan tak pernah siap ketika ada sosok baru yang datang.

Sunday, 15 October 2017

Tak Lagi Sejuk

Kau adalah angin
Datang kala tak ada kata mungkin
Pergi saat seluruh aku mulai yakin

Saturday, 23 September 2017

Memilih Malam

            Kita sedang duduk di bawah bentangan langit yang bertaburan bintang. Cahaya rembulan tersenyum menyabit, seperti kue yang minta digigit, begitu legit. Kau masih di sampingku, tidak beranjak walau sedikit hingga hatiku lama-lama semakin kebat-kebit. Andai saja detik ini aku bisa menjerit.

Tuesday, 5 September 2017

Kala Kita

Langit mulai menyala
Kala kita terbangun nyata
Fajar menyingsing cakrawala

Friday, 18 August 2017

Patah

            Lisa hanya tertegun, ia telah lelah, dalam genggamannya ada berbagai macam obat dan di hadapannya ada segelas air putih.  Penyakit kanker darah yang dideritanya seakan telah menghabiskan energi tubuhnya, merenggut jiwanya, menghilangkan senyum manisnya.  Lisa terkadang ingin menyelesaikan semuanya, ia ingin beristirahat dengan tenang, namun ia tak mau orang yang disayanginya meneteskan air mata karenanya.
            Penderitaan Lisa ditambah dengan kepindahannya ke Bogor.  Ia tak punya teman.  Ia sendiri, sepi.  “Bogor memang indah, hawanya yang sejuk akan menenangkan hati siapa pun yang ada di sini, tapi apakah akan bermakna jika hanya sendiri melewatinya?” ujar Lisa dalam hati.
            “Lisa?” panggil ayahnya.
            “Iya, Yah?” sahut Lisa seraya keluar dari kamarnya.
            “Ini ada tetangga kita yang baru, Nak. Ayo berkenalan dulu, Sayang,ajak ayah Lisa.
            “Iya, Yah, aku datang.” Lisa menghampiri ayahnya yang sedang berbincang di ruang tamu dengan dua orang anak SMA seumurannya.
            Melihat Lisa muncul, Ayah langsung menyambutnya. “Lisa, perkenalkan, ini Anita dan yang ini Kevin.  Mereka yang akan menjadi temanmu di sini.  Ayah telah memasukkanmu ke sekolah mereka.  Semoga kau senang, ya, Nak.”
            “Halo, salam kenal, namaku Lisa.  Senang bertemu dengan kalian.  Semoga kalian bisa menjadi sahabatku yang baru,” ucap Lisa seraya tersenyum bahagia.
            “Tentu,sahut Anita dan Kevin.
            Di ruang tamu itu terdengar tiga orang anak berbincang begitu lamanya.  Desau angin menggerak-gerakkan gorden pada jendela seolah ingin ikut berbincang melihat kebahagiaan Lisa yang menemukan teman baru.  “Semoga mereka akan menjadi sahabat yang menyayangiku apa adanya, batin Lisa.  Namun, ada satu hal yang aneh, Lisa terus memegang dadanya.  Detak jantungnya sangat cepat berdetak.  Lisa terlihat gelisah,  keringatnya perlahan menetes.  Saat akhirnya Anita dan Kevin pulang, Lisa kembali normal, ia merasa tenang.
~~~
Aku sudah betah di sini, Ayah.  Aku enggak mau pindah lagi!” bantah Lisa di tengah tangisnya.
            “Penyakitmu semakin parah, Nak. Kamu harus pergi bersama Ayah ke Singapura, semua demi kesehatanmu, Sayang.  Ayah tak ingin melihatmu tersiksa,” ucap Ayah lirih.
            Lisa pergi ke kamarnya.  Diiringi tetes air matanya, Lisa membereskan barang-barang.  Kepindahannya ini begitu mendadak.  Ia tak sempat memberi tahu Anita maupun Kevin.  “Selamat tinggal, Anita, Kevin.  Terima kasih telah menjadi sahabatku yang baik.  Terima kasih, Kevin, selalu membuat detak jantung ini berlagu. Aku akan merindukanmu,” tuturnya dalam hati.  Malam ini juga ia harus terbang ke Singapura.  Satu hal yang menjadi beban pikiran Lisa, ia kehilangan bukunya, buku yang selalu dibawanya, tidak ada di seluruh sudut rumah.  Ia khawatir, buku itu sangat penting dan rahasia.
~~~

Saturday, 12 August 2017

Menjadi Hujan

Aku ingin menjadi hujan
Yang kautunggu mati-matian
Di tengah panas dan kekeringan
Yang karenanya kautadahkan tangan
Untuk menjemput sejumput kesejukan

Sunday, 6 August 2017

Denyut Langit

            Jauh di angkasa luar, aku memperhatikanmu. Kau yang tinggal di Bumi itu sungguh lucu. Kau berharap pergi menembus atmosfer, melintasi ruang antarbintang. Setiap malam, kautatap bintang-bintang, menunjuk dan meraihnya, menggenggamnya seolah mereka benar-benar kaugenggam.
            Tahukah kau, cahaya bintang yang kaulihat itu bukanlah cahaya saat itu, melainkan cahaya masa lalu. Kau tidak pernah tahu berapa lama waktu yang dibutuhkan mereka untuk bisa menatap wajahmu, menyinari tempatmu berdiam setiap waktu.

Wednesday, 2 August 2017

Sepakat

Di batas cakrawala
Kenangan menjelma
Melukis pendar jingga
Menggurat tipis lembayung senja

Tuesday, 4 July 2017

Sepasang Partikel Maya

            Saat ini, kita tak lagi dipisahkan oleh jarak, melainkan ruang. Akan tetapi, aku masih bersyukur. Aku sungguh mensyukuri bahwa kita dilahirkan dan tumbuh di planet yang sama. Andai saja aku dan kau berasal dari Venus dan Mars seperti yang orang bilang, kita tak akan pernah bersama. Tubuh kita takkan mampu beradaptasi dengan Bumi, sulit menyesuaikan organ tubuh dengan gravitasi. Sungguh, kita tak akan mampu setiap hari dengan bebas berlari. Bukankah Tuhan berkali-kali mengatakan bahwa nikmat Tuhan yang manakah yang kita dustakan?
            Sungguh, itu benar adanya. Takkan lagi aku terlalu banyak mengeluh tentang ruang yang memisahkan kita hingga hati ini rasanya runtuh. Aku telah menyadari bahwa bisa melihat dan bertemu denganmu di planet ini adalah anugerah yang indah. Aku tak harus melewati berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun cahaya untuk bisa menemuimu. Aku tak harus melewati ruang hampa demi sesuatu yang kupercaya. Kau nyata, senyata rasa yang selama ini kupunya. Kau ada tepat di titik kecil yang sama denganku dari jagat raya.

Friday, 30 June 2017

Menua Bersama

Kala hari itu tiba
Telah sampai batas usia
Saatnya meregang nyawa
Bisakah aku yang kedua?

Pergilah kau jadi yang pertama
Sebab engkaulah istimewa
Saat nyawa meninggalkan raga
Di hatiku kau tetap ada

Thursday, 25 May 2017

Terhubung Semesta

            Kita mengira bahwa segalanya telah selesai, bahwa cerita kita telah usai. Akan tetapi, rupanya kita salah telak. Meskipun almanak telah menggulung waktu hingga aku dan dirimu terpisah dimensi semu, ternyata masih ada ruang partikel yang menghubungkan kita. Walau telah kuputuskan semua benang yang membuat kita terikat, ternyata ada benang baru yang menjerat.
            Apakah kau pernah menyadari bahwa dunia kita selalu beririsan? Ketika jarak memisahkan, tetap saja ada yang membuat hati begitu dekat. Percuma saja jika kita berusaha memutuskannya dengan kuat sebab kita ternyata bukan hanya terikat, namun juga terhubung. Di antara kita, ada ruang paralel yang menyimpan segala rasa, entah yang bernama atau tidak. Kita selalu bertemu di alam mimpi, bercengkerama lintas dimensi. Kita bersua di tempat yang berbeda, di ruang tanpa batas, di sebuah alam yang disebut semesta.

Tuesday, 21 March 2017

Kau Sang Puisi

Kau adalah sang puisi
Tanpa kenal hari
Kau abadi
Hingga tak lagi ada hari puisi

Kala kau berpindah dimensi
Tidaklah kaupergi
Kau mewujud puisi
Tak henti menemani

Berapa jua puisi yang dibuat
Tak pernah sebanding dirimu 
Sebab sejatinya 
Kaulah puisi itu

Wednesday, 15 February 2017

Kita (Tak) Abadi

Kita abadi
Dengan rasa saling mengasihi
Diiringi desir darah dalam sunyi

Kita abadi
Dengan detak jantung yang bernyanyi
Diiringi rona merah pada pipi

Saturday, 21 January 2017

Menata Jejak

Waktu terus melaju, bersama segala kisah denganmu.  Tak ada lagi kita dalam detak yang sama, juga dalam hela napas yang terbawa udara.  Hanya ada sebuah rasa yang tertinggal jauh di relung jiwa, menemani hari yang mulai terasa hampa.  Aku tak peduli jika harus menghabiskan masa sendiri, asalkan dunia tak sunyi sebab hati ini telah mati.
THEME BY RUMAH ES