Tuesday, 4 July 2017

Sepasang Partikel Maya

            Saat ini, kita tak lagi dipisahkan oleh jarak, melainkan ruang. Akan tetapi, aku masih bersyukur. Aku sungguh mensyukuri bahwa kita dilahirkan dan tumbuh di planet yang sama. Andai saja aku dan kau berasal dari Venus dan Mars seperti yang orang bilang, kita tak akan pernah bersama. Tubuh kita takkan mampu beradaptasi dengan Bumi, sulit menyesuaikan organ tubuh dengan gravitasi. Sungguh, kita tak akan mampu setiap hari dengan bebas berlari. Bukankah Tuhan berkali-kali mengatakan bahwa nikmat Tuhan yang manakah yang kita dustakan?
            Sungguh, itu benar adanya. Takkan lagi aku terlalu banyak mengeluh tentang ruang yang memisahkan kita hingga hati ini rasanya runtuh. Aku telah menyadari bahwa bisa melihat dan bertemu denganmu di planet ini adalah anugerah yang indah. Aku tak harus melewati berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun cahaya untuk bisa menemuimu. Aku tak harus melewati ruang hampa demi sesuatu yang kupercaya. Kau nyata, senyata rasa yang selama ini kupunya. Kau ada tepat di titik kecil yang sama denganku dari jagat raya.
            Bagaimana menurutmu jika aku mencintaimu seperti jagat raya yang terhingga namun tak memiliki tapal batas? Cintaku terus mengembang, begitu cepat, namun kau merasa selalu di tempat yang sama. Kau tidak tahu seberapa cepat cintaku bertambah. Kau tidak tahu seberapa besar cintaku berkembang. Mungkin saat kau membaca kalimat ini, cintaku telah berkembang, telah lebih besar dibanding rasa cintaku saat kau membaca huruf pertama judul tulisan ini.
            Bagaimana jika aku mencintaimu tidak hanya dalam dimensi ruang, namun juga dimensi waktu? Dalam dimensi ruang, cintaku berubah, semakin bertambah. Dalam dimensi waktu, hati ini tak pernah berpindah walau hanya selangkah. Seperti itulah cintaku dalam dimensi ruang-waktu, bertambah tanpa berpindah. Adakah yang mencintaimu seperti aku?
            Berhentilah bertanya mengapa aku bisa jatuh cinta padamu. Sungguh, aku tak bisa menjawabnya. Apakah yang lebih utara dari Kutub Utara? Ada apa di sebelah selatan Kutub Selatan? Pertanyaanmu bagiku setara sulitnya dengan kedua pertanyaan itu. Tolong, berhentilah meminta jawaban perihal rasa yang kupunya sebab bukan aku yang menciptakannya.
            Kali ini, biarkan aku yang bertanya. Apakah kita hanya seperti sepasang partikel maya di sebuah cakrawala peristiwa lubang hitam yang akan bertemu lagi untuk saling meniadakan? Aku mencintaimu dan tak ingin meniadakanmu. Maka, biarkanlah aku menyeberangi cakrawala peristiwa lalu masuk ke dalam lubang hitam dan menjadikanmu seolah partikel nyata di luar sana. Tetaplah hidup, jangan ikuti aku di sini. Kau bebas. Kau mampu berdiri sendiri. Pergilah, keluarlah seperti sesuatu yang baru, jangan melihat ke arahku lagi. Pertemuan kita hanya akan berakhir dengan ketiadaan.

No comments:

Post a Comment

THEME BY RUMAH ES