Friday, 18 August 2017

Patah

            Lisa hanya tertegun, ia telah lelah, dalam genggamannya ada berbagai macam obat dan di hadapannya ada segelas air putih.  Penyakit kanker darah yang dideritanya seakan telah menghabiskan energi tubuhnya, merenggut jiwanya, menghilangkan senyum manisnya.  Lisa terkadang ingin menyelesaikan semuanya, ia ingin beristirahat dengan tenang, namun ia tak mau orang yang disayanginya meneteskan air mata karenanya.
            Penderitaan Lisa ditambah dengan kepindahannya ke Bogor.  Ia tak punya teman.  Ia sendiri, sepi.  “Bogor memang indah, hawanya yang sejuk akan menenangkan hati siapa pun yang ada di sini, tapi apakah akan bermakna jika hanya sendiri melewatinya?” ujar Lisa dalam hati.
            “Lisa?” panggil ayahnya.
            “Iya, Yah?” sahut Lisa seraya keluar dari kamarnya.
            “Ini ada tetangga kita yang baru, Nak. Ayo berkenalan dulu, Sayang,ajak ayah Lisa.
            “Iya, Yah, aku datang.” Lisa menghampiri ayahnya yang sedang berbincang di ruang tamu dengan dua orang anak SMA seumurannya.
            Melihat Lisa muncul, Ayah langsung menyambutnya. “Lisa, perkenalkan, ini Anita dan yang ini Kevin.  Mereka yang akan menjadi temanmu di sini.  Ayah telah memasukkanmu ke sekolah mereka.  Semoga kau senang, ya, Nak.”
            “Halo, salam kenal, namaku Lisa.  Senang bertemu dengan kalian.  Semoga kalian bisa menjadi sahabatku yang baru,” ucap Lisa seraya tersenyum bahagia.
            “Tentu,sahut Anita dan Kevin.
            Di ruang tamu itu terdengar tiga orang anak berbincang begitu lamanya.  Desau angin menggerak-gerakkan gorden pada jendela seolah ingin ikut berbincang melihat kebahagiaan Lisa yang menemukan teman baru.  “Semoga mereka akan menjadi sahabat yang menyayangiku apa adanya, batin Lisa.  Namun, ada satu hal yang aneh, Lisa terus memegang dadanya.  Detak jantungnya sangat cepat berdetak.  Lisa terlihat gelisah,  keringatnya perlahan menetes.  Saat akhirnya Anita dan Kevin pulang, Lisa kembali normal, ia merasa tenang.
~~~
Aku sudah betah di sini, Ayah.  Aku enggak mau pindah lagi!” bantah Lisa di tengah tangisnya.
            “Penyakitmu semakin parah, Nak. Kamu harus pergi bersama Ayah ke Singapura, semua demi kesehatanmu, Sayang.  Ayah tak ingin melihatmu tersiksa,” ucap Ayah lirih.
            Lisa pergi ke kamarnya.  Diiringi tetes air matanya, Lisa membereskan barang-barang.  Kepindahannya ini begitu mendadak.  Ia tak sempat memberi tahu Anita maupun Kevin.  “Selamat tinggal, Anita, Kevin.  Terima kasih telah menjadi sahabatku yang baik.  Terima kasih, Kevin, selalu membuat detak jantung ini berlagu. Aku akan merindukanmu,” tuturnya dalam hati.  Malam ini juga ia harus terbang ke Singapura.  Satu hal yang menjadi beban pikiran Lisa, ia kehilangan bukunya, buku yang selalu dibawanya, tidak ada di seluruh sudut rumah.  Ia khawatir, buku itu sangat penting dan rahasia.
~~~

Saturday, 12 August 2017

Menjadi Hujan

Aku ingin menjadi hujan
Yang kautunggu mati-matian
Di tengah panas dan kekeringan
Yang karenanya kautadahkan tangan
Untuk menjemput sejumput kesejukan

Sunday, 6 August 2017

Denyut Langit

            Jauh di angkasa luar, aku memperhatikanmu. Kau yang tinggal di Bumi itu sungguh lucu. Kau berharap pergi menembus atmosfer, melintasi ruang antarbintang. Setiap malam, kautatap bintang-bintang, menunjuk dan meraihnya, menggenggamnya seolah mereka benar-benar kaugenggam.
            Tahukah kau, cahaya bintang yang kaulihat itu bukanlah cahaya saat itu, melainkan cahaya masa lalu. Kau tidak pernah tahu berapa lama waktu yang dibutuhkan mereka untuk bisa menatap wajahmu, menyinari tempatmu berdiam setiap waktu.

Wednesday, 2 August 2017

Sepakat

Di batas cakrawala
Kenangan menjelma
Melukis pendar jingga
Menggurat tipis lembayung senja
THEME BY RUMAH ES