Sunday, 6 August 2017

Denyut Langit

            Jauh di angkasa luar, aku memperhatikanmu. Kau yang tinggal di Bumi itu sungguh lucu. Kau berharap pergi menembus atmosfer, melintasi ruang antarbintang. Setiap malam, kautatap bintang-bintang, menunjuk dan meraihnya, menggenggamnya seolah mereka benar-benar kaugenggam.
            Tahukah kau, cahaya bintang yang kaulihat itu bukanlah cahaya saat itu, melainkan cahaya masa lalu. Kau tidak pernah tahu berapa lama waktu yang dibutuhkan mereka untuk bisa menatap wajahmu, menyinari tempatmu berdiam setiap waktu.
            Denyut langit yang terkadang kaurasa dan kaudengar itu adalah degup jantungku–andai kau menyadarinya. Menyala aku di tengah gelap alam raya ketika kau tersenyum menatap langit malam yang hapuskan lara. Aku sungguh ingin menemuimu, mengajakmu kemari agar bisa kupeluk dengan cahaya yang abadi.
            Aku adalah yang selalu mereka cari, di atas gunung, di bibir pantai, di tengah pedesaan. Mereka selalu berusaha untuk menangkap sosokku. Terkadang, mereka bisa melihatku, memujiku yang membentang indah di langit yang merekah. 
            Sungguh, teramat disayangkan, kau tinggal di sebuah kota yang penuh akan polusi udara serta cahaya. Kau mengeluh betapa sulitnya untuk bisa menemukanku. Kau harus meminta penduduk kotamu untuk memadamkan lampu dan tidak mengotori langitmu terus-menerus.
            Sebenarnya, kau tinggal di dalamku, namun kau tetap bisa melihatku. Ajaib, bukan? Kau tinggal di sebuah planet bernama Bumi, yang berputar mengelilingi matahari, sebuah sistem tata surya yang hanya salah satu dari sistem planet lainnya. Kalau saja suatu hari nanti aku diberi kesempatan untuk memperkenalkan diri, dengan bangga akan kukatakan bahwa aku adalah galaksimu, Bima Sakti yang selama ini kaukagumi.

No comments:

Post a Comment

THEME BY RUMAH ES