Saturday, 4 November 2017

Transit

            Pernah suatu ketika, aku meminta, memohon untuk diperlihatkan seseorang yang mungkin tepat. Setelah semua yang kulewati, entah apa yang salah, sosok yang tidak tepat atau justru waktu yang tidak tepat. Dia yang kucintai selama ini pergi begitu saja, seperti kilat yang pergi setelah menyambar hati sesaat. Aku hanya ingin tahu siapa sebenarnya yang paling tepat. Aku ingin melihat sekali saja, teramat sangat. 
            Aku tak pernah menyangka ketika akhirnya bisa melihat sosok yang tak pernah kutemui sebelumnya. Benakku bertanya-tanya, apakah kau adalah sosok yang kuminta dahulu kala? Apakah kau adalah perwujudan dari segala harap dan doa? Ada bahagia yang hadir meski diiringi perasaan getir. Jika kau ternyata datang, perasaanku pada dia harus segera hilang. Namun, bagaimana mungkin? Aku mencintainya hingga waktu yang entah kapan dan tak pernah siap ketika ada sosok baru yang datang.
            Aku membisu, tak ada yang bisa kukatakan ketika melihat sosokmu yang duduk di sampingku. Bahkan, untuk menatap wajahmu pun aku tak sanggup. Aku diliputi berjuta tanya yang saling berebut ingin dikeluarkan, namun aku tahu betul belum tentu mereka bertemu dengan jawaban. Kau pun membisu, tak mengeluarkan kata meski sepatah saja.
            Ada sesal yang merayap ketika di satu kesempatan itu aku tidak menatap wajahmu. Bagaimana aku bisa mencarimu jika aku tak pernah melihat wajahmu? Bagaimana aku bisa mengetahui sosokmu ketika yang kupunya hanyalah perasaan bahwa kau ada? Aku menyerah dan pasrah pada kebodohanku. Tak pasti ada kesempatan kedua untuk bisa bertemu denganmu, bukan?
            Akan tetapi, keajaiban itu ternyata benar adanya sebab kau kembali datang. Kali ini, kau berdiri di sampingku, membuatku tahu bahwa aku hanya lebih tinggi sedikit dari bahumu. Lagi-lagi, kita hanya diam, saling membisu. Mengapa tak ada yang bisa kuucapkan di sini, di sisimu? Padahal, sekali saja aku ingin berterima kasih karena kau tidak hanya datang sekali. Belum sempat aku menatap wajahmu, kau menghilang lagi. Kau benar-benar membuatku tak henti bertanya-tanya. Kau seperti transit, melintas dari langit di piringan alam bawah sadarku.
            Mungkin aku hanya memiliki tiga kesempatan untuk bertemu denganmu. Kau masih meninggalkan tanya di pertemuan kita yang ketiga. Kau menunduk, tidak memberi kesempatan untukku melihat wajahmu. Aku hanya bisa mematung, menatap rambutmu yang hitam bergelombang. Apakah harus seperti ini akhir dari segalanya?
            Kalau saja kautahu, bertahun-tahun aku menantimu, berharap kau kembali datang. Ada jarak entah sepanjang apa yang memisahkan antarpertemuan kita. Butuh waktu bertahun-tahun hingga kita bisa bertemu sebanyak tiga kali, bukan? Mungkin kau adalah jelmaan suara nyaring yang keluar dari mulut orang-orang ketika mengetes mikrofon—satu, dua, tiga. Selalu saja mereka hanya menyebutkan angka sampai tiga. Kini hal itu terasa seperti sebuah kutukan bagiku.
            Mungkin aku tidak tahu diri, tapi tolong beri aku kesempatan untuk dapat melihat wajahmu, beri aku kesempatan untuk dapat mencarimu di dunia nyataku. Semua pertemuan kita hanya terjadi di dalam mimpi dan hanya aku sendiri yang bisa mencari. Aku tak bisa meminta bantuan polisi untuk melacak seluruh daerah demi menemukan dirimu yang berwajah entah.
            Mimpiku menjadi transit bagimu, tempat singgah yang membuatmu bertemu denganku. Hingga saat ini, aku tak pernah bisa menemukanmu di dunia nyata. Dengan jam terbangmu di malam hari dan jumlah kedatanganmu yang hanya tiga kali, harus bagaimana lagi aku mencari? Tolong, jika kau ada di alam sadarku, jangan berkelana terlalu jauh sebab aku kesulitan untuk menemukanmu. Aku hanya akan tahu dirimu ketika kita berpapasan karena perasaanku saat di dalam mimpi akan menyeruak kala itu. Aku hanya akan tahu ketika kita telah bertemu.
            Jika kau tak ada di dunia yang sama denganku, tolong jangan buat aku jatuh cinta dengan cara yang tak bisa dikenali logika. Sungguh, aku memang pernah meminta dulu kala. Akan tetapi, jika memang mimpiku benar-benar transit untukmu, singgahlah kembali dan jangan pergi lagi, jangan buat aku menjadi gila. Tak apa, tak apa jika aku hanya bisa membisu dalam transitmu. Bagiku, yang terpenting adalah menyadari bahwa semesta telah menghadirkanmu untukku, hanya untukku.

No comments:

Post a Comment

THEME BY RUMAH ES