Saturday, 23 December 2017

Mata dan Senyum Sehangat Mentari

            Aku tak pernah mengira akan bertemu denganmu ketika baru saja aku melepaskannya. Saat itu, kala aku telah benar-benar merelakannya pergi bersama sosok yang dicintainya, yang mampu membuatnya lebih bahagia daripada aku, kau melintas tak beberapa lama kemudian. Aku yang baru saja melepaskan kesempatan untuk kembali bersamanya, justru dipertemukan denganmu yang entah siapa. Aku telah membulatkan tekad untuk tidak lagi memiliki asa walau sebesar atom kepadanya. Aku sudah tak lagi berharap meski akan terus mencintainya.
            Ketika dia telah berjalan meninggalkanku yang masih berdiri menata hati, seraut wajah kutangkap melintas, membuat mataku membulat tak percaya. Kau menoleh ke arahku, tersenyum, seperti sudah begitu lama mengenalku. Kala itu, aku justru mematung. Kau dengan mata dan senyum sehangat mentari, datang tepat waktu, ketika hujan badai baru saja berlalu, ketika hati ini sudah seperti debu yang siap ditiup terbang kapan saja. Kau bukan pelangi yang memberi keindahan dengan tujuh warnanya yang khas. Kehadiranmu benar-benar menghangatkan, tepat seperti hari pertama musim semi setelah musim dingin yang membekukan.
            Entah mengapa, ada hangat yang menjalar, ada tenang yang merambat. Kau siapa? Mengapa kau menyapaku dengan cara yang sedemikian rupa padahal barulah kali pertama aku dan kau berjumpa? Sebentar saja, sekilas saja, selintas saja, namun kau benar-benar menyisakan hangat yang melekat. Tak sempat aku bertanya siapa namamu atau dari mana asalmu. Jangankan bertanya, mengedipkan mata pun rasanya aku tak sempat. Kau benar-benar seperti kilat yang menyambar sesaat lalu pergi melesat.
            Detik ketika aku terbangun, hangat itu masih terasa, benar-benar membuatku merasa kau begitu nyata. Aku hanya merasa bahwa kau sungguh ada di dunia nyata, hidup di alam yang sama denganku, menapakkan kaki di dimensi yang sama, bukan bertemu di dalam mimpi saja. Entah mengapa aku merasa suatu hari akan bertemu denganmu di sini, di dunia yang kutinggali.
            Aku mencarimu, terus mencarimu di mana pun aku berada. Aku belum berhenti, belum menyerah meski menemukanmu benar-benar bukanlah hal yang mudah. Tidak ada yang tahu bahwa kau benar-benar ada di dunia nyata, bukan? Bagaimana jika sebenarnya kau memanglah tidak ada? Bagaimana jika kau memang hanya diizinkan untuk menghangatkan hatiku di dalam mimpi saja? Padahal, mungkin kautahu bahwa hati yang telah porak poranda ini adalah nyata, bukan mimpi belaka.
            Acap kali aku tiba-tiba berhenti ketika melihat sosok yang berperawakan sepertimu, tinggi dan berambut kecoklatan. Namun, ketika kucermati setiap wajah itu baik-baik, tak kutemukan mata dan senyum sehangat mentari. Tahukah kau? Ternyata begitu sulit untuk menemukanmu meski sudah kutahu seperti apa parasmu. Bagaimana mungkin aku meminta setiap dari mereka yang kutemui untuk tersenyum kepadaku yang entah siapa? Bagaimana mungkin? Mengapa tak pernah mudah untuk mencari seseorang yang mampu menghadirkan perasaan indah? Telah cukup banyak aku menemukan sosok yang serupa denganmu namun hatiku tahu bahwa itu bukanlah dirimu.
            Apakah kau akan hadir kembali ke dalam mimpiku, memberi tahu siapa dirimu dan di mana kau berada? Bisakah kaujelaskan kemungkinan bahwa aku dan kau pernah saling mengenal sebelumnya? Akankah suatu hari aku dan kau bisa bertemu bila memang kau sungguhlah sosok yang nyata? Mungkinkah kau adalah sosok yang mampu membangun kembali hatiku yang telah hancur, bukan lagi patah menjadi dua? Di mana pun kau berada, jika benar adanya, aku masih mencarimu, janganlah pergi terlebih dulu sebelum aku menemukanmu. Aku masih berjuang untuk menemukan kau, sosok dengan mata dan senyum sehangat mentari.

No comments:

Post a Comment

THEME BY RUMAH ES