Wednesday, 28 February 2018

Orang Ketiga

            Waktu terus berjalan dan kurasa semuanya telah selesai. Aku telah cukup dikejar berbagai tanya yang hingga kini belum menemukan jawab sebagai jodohnya. Aku mengira bahwa takkan lagi ada yang mengharuskanku bertanya-tanya, gelisah, dan terus terusik ketika detik berganti detik. Namun, ternyata aku salah. Perjalananku belum selesai.
            Aku kembali dihadapkan pada dunia yang hingga saat ini belum pernah bisa kuatur sedemikian rupa. Di sini, tak ada yang bisa kulakukan, tak ada yang bisa kuubah sebab segalanya berlangsung hanya dalam waktu yang singkat, tetapi menyisakan kenang yang lekat. Siapakah kau? Mengapa kau bisa ada di depanku dengan sebuah hadiah yang kauletakkan di meja itu?
           Tanpa memperkenalkan diri, kau memintaku untuk menerima hadiah itu. Aku hanya mengerutkan dahi, tanda tak mengerti. Apa kau bercanda? Kau seperti telah mengenalku sebelumnya meskipun entah di mana. Namun, lihatlah apa yang kaulakukan padaku. Apakah kau benar-benar tidak tahu bahwa hatiku telah tertuju kepada sosok lain? Mengapa kau harus hadir sekarang menjadi orang ketiga?
            Mungkin alam sedang ingin mempermainkanku, mengobrak-abrik hatiku yang bahkan sudah berantakan. Akan jadi seperti apa lagi ke depannya? Sungguh, dahulu aku hanya meminta satu. Satu yang kutunggu begitu lama. Satu yang hingga kini tak pernah kutemukan. Satu yang membuat hati merasa tenang. Satu yang membuat jiwa merasa utuh. Satu yang melengkapi. Satu yang memahami.
            Andaikan kautahu, sosok selainmu pun masih menjadi misteri, kepingan teka-teki yang harus kuselesaikan dengan hati-hati, potongan yang harus aku tempatkan untuk melengkapi ruang kosong yang masih sunyi, menunggu untuk diisi. Akan tetapi, kau justru datang dengan penuh rasa percaya diri. Pikirmu, kau siapa? Menurutmu, kau bisa mendapatkan hatiku begitu saja?
            Kau sungguh curang sekali, tidak menampakkan wajahmu padaku. Kau sengaja ingin membuatku terus bertanya-tanya dan mencari? Tentu, kau memang sepertinya sudah mengenalku. Kau, entah mengapa, sudah mampu menarik perhatianku. Bukan, bukan dengan hadiah yang kauberikan. Akan tetapi, senyum itu. Ya, seberkas senyum yang terbit di hadapanku yang membuatku terpaku.
            Kau benar-benar menyulitkanku. Harus kepada siapa aku bertanya hingga dapat melihat ekspresi yang sama persis itu? Harus berapa lama aku mencari hingga bisa bertemu denganmu meski hanya sekali? Andaikan kautahu, orang ketiga tidak dapat dengan mudah mencuri hati seorang yang setia. Kau—sayangnya—datang di waktu yang lebih lambat dari keduanya. Ya, ke mana saja kau selama ini? Apakah kau memang sengaja datang saat ini untuk menjadi yang terakhir? Tak akan semudah itu. Aku telah disibukkan oleh sosok-sosok yang datang sebelummu—orang pertama dan kedua.
            Bukankah jarak kita saat ini hanyalah sebuah meja yang di atasnya hadiah itu menjadi saksi pertemuan? Akan tetapi, aku tidak akan lupa bahwa sesungguhnya jarak kita adalah sebentangan kelopak mata dengan waktu yang berjam-jam. Terima kasih kau telah datang, mungkin kau akan kupertimbangkan sebab meski wajahmu tak terlihat, senyummu telah membuatku merasa terikat.
            Suatu hari ketika kita bertemu di dunia yang akan kembali ada ketika dua kelopak mata ini terbuka, jangan membuatku kecewa. Jika kau memang benar-benar ingin mendapatkan hatiku yang telah tertambat, usahamu haruslah tiada tara. Aku tahu kau tidak akan menyerah untuk mendapatkanku, bukan? Ketika saat itu tiba, mungkin aku harus menyiapkan hati yang baru sebab di hati yang lain, tak ada celah untuk orang ketiga.

No comments:

Post a Comment

THEME BY RUMAH ES