Saturday, 24 March 2018

Sepasang Perasaan Asing

            Aku tenggelam dalam kisah yang penuh kata-kata. Begitulah. Aku benar-benar tenggelam. Tadinya aku hanya ingin membiarkan semua mengalir apa adanya, seperti air yang mengalir. Namun, dia benar-benar melepaskanku, membiarkanku mengalir menuju sebuah muara yang kedalamannya tak pernah kukira sebelumnya. Dia secara tidak langsung menenggelamkanku ke dalam lautan penuh hiu. Aku termakan omonganku sendiri. Ternyata mengalir apa adanya tidaklah selalu menyenangkan ketika akhirnya harus tenggelam, begitu dalam.
           Kami telah selesai. Cerita itu telah berlalu. Namun, sepertinya kami tak pernah benar-benar selesai. Ada perasaan yang tiba-tiba menyeruak ketika tanpa sengaja sepasang mataku bersirobok dengan sepasang matanya. Entah berapa detik kami saling menatap. Aku mengembuskan napas setelah tanpa sadar menahannya sejak mata kami bertemu.
            Kulihat dia memutus pembicaraan—kontak mata yang terjalin cukup lama. Sejak dulu kami memang seperti itu. Kami tak pernah banyak bicara ketika sedang melewati waktu berdua. Tak banyak kata yang terucap, hanya mata yang saling menatap, hanya hati yang dipenuhi harap. Kami saling memahami, saling mencintai, saling berbagi.
Dia bukanlah gadis yang cerewet dan manja seperti kebanyakan gadis lainnya. Dia begitu dingin, tapi hatinya begitu hangat. Dia adalah bulan, dewi malam(ku). Setelah dua tahun lamanya tak pernah kudengar kabarnya dan kulihat batang hidungnya, kini dia ada di ruang yang sama denganku.
Aku berjalan mendekat ke arahnya. Dia tidak menghindar, tidak terlihat akan beranjak dari kursi yang didudukinya. Dia kembali—pura-pura—sibuk menatap layar laptop dan menarikan jemarinya yang kecil itu di atas papan ketik. Aku berani bertaruh dia hanya asal mengetik. Memangnya siapa yang paling tahu dirinya selain aku?
Kursi di depannya kutarik, lalu aku duduk dan memperhatikan dia. Kami sudah selesai. Namun, saat kini takdir mempertemukan kami kembali, aku tak yakin dengan perkataanku sendiri.
“Sendiri aja?” Dia bertanya seraya mengalihkan pandangannya dari layar laptop tepat menuju wajahku.
Itu adalah pertanyaan basa-basi paling basi. Dia pernah bilang begitu padaku. Kini dia sendiri yang melontarkan pertanyaan itu. Namun, aku tahu maksud dari pertanyaan itu. Sangat tahu.
“Ya ... seperti yang kamu lihat,” jawabku sambil mengedikkan bahu.
Hening. Satu detik. Dua detik. Tiga detik. Empat detik. Lima detik. Semua kata tertahan di tenggorokan. Tak ada yang bisa kuutarakan. Kembali, cukuplah dua pasang mata yang saling berbicara dari hati ke hati.
“Arago,” panggilnya, “kamu seharusnya tidak duduk di sini.”
            Mendengar itu, aku seperti dicabik seekor hiu. Ya, dia benar. Seharusnya aku tidak duduk di depannya, di meja yang sama dengannya. Namun, seperti yang sudah kukatakan, aku justru tenggelam ketika dia melepaskan.
            “Tolong, aku sudah berjanji pada diriku sendiri untuk tidak lagi menanam asa walau hanya satu benih saja dalam hati ini.” Dia berkata pelan, penuh penekanan.
            Aku mengerutkan dahi. Jadi, dia sudah benar-benar selesai? Dia dan perasaannya itu? Sebenarnya aku tidak terlalu heran dengan kalimatnya yang seperti itu. Aku sudah membaca buku karangannya, juga sering membaca tulisannya dan sedikit-banyak sepertinya aku pun tertular untuk sesekali menulis syair seperti dirinya.
            “Kamu tidak bisa memaksaku untuk berhenti mencintaimu, seperti aku tidak bisa memaksamu untuk mencintaiku,” ungkapnya dengan suara yang cukup untuk membuat hatiku berdenyut.
            “Carinae,” ujarku agak sedikit canggung karena menyebut namanya, “seharusnya kamu tidak sendiri lagi.”
            Pupil matanya membesar sesaat, secepat kilat. Mungkin aku telah membuatnya tersinggung hebat. Namun, dia justru tersenyum, senyum miring yang membuat otakku merasa ikut miring.
            Dia kini menatap mataku lalu berkata, “Aku sudah melepaskanmu sejak lama. Aku hanya ingin kau bahagia. Entah aku terlibat di dalamnya atau tidak, kau harus bahagia. Apa sekarang kau sudah benar-benar bahagia?”
            Sial. Kembali, aku merasa dicabik oleh hiu. Kali ini jumlahnya dua. “Memangnya menurutmu aku kelihatan tidak bahagia? Kautahu sendiri aku selama ini baik-baik saja dengan Rea.”
            “Kalau begitu, aku turut berbahagia untukmu,” tuturnya seraya tersenyum.
Sungguh, dia benar-benar tersenyum. Bukan hanya bibirnya, matanya pun ikut tersenyum. Dia mengatakan itu dari dalam hatinya. Entah mengapa itu membuatku sedikit terusik. Dia benar-benar tak lagi mengharapkanku?
“Jadi, kapan undangan itu akan sampai ke rumahku?” Dia bertanya dengan nada yang bagiku terasa seperti menantang.
Undangan? Hingga detik ini pun hal itu belum terlintas di benakku. Dia telah berpikir sejauh itu? Yang benar saja.
Aku memutar arah laptop di hadapannya. Kini mataku menatap halaman putih di layar itu. Dia tidak menahan. Dia membiarkan aku menggunakan laptopnya. Padahal, dulu dia tidak suka jika aku mengintip laptopnya walau sekedipan mata saja.
Aku tak tahu harus mengatakan apa padanya saat ini, pada dia yang ada di hadapanku. Ada yang menyerang hatiku sejak tadi, selama kami duduk berdua di sini. Aku akhirnya mengetik di halaman yang putih bersih itu.
Cukup bagimu merasakan pedihnya mencintaiku. Jangan pikir dengan mencintaiku, kau akan bahagia. Semuanya tinggal kenangan. Kamu hanya serpihan masa lalu. Tak usah lagi peduli padaku. Aku sakit, bahagia, sedih, atau mati pun, jangan pernah ingat aku lagi. Aku bukan milikmu, bukan siapa-siapamu. Tuhan akan memberikan yang terbaik untuk sosok sepertimu. Kejar cita-citamu. Beri waktu untukmu membahagiakan diri sendiri. Untuk apa menunggu orang yang tidak jelas sepertiku? Lupakan aku. Berhentilah menunggu.
Aku mengembalikan laptop itu padanya. Tanpa mengatakan apa pun lagi, aku beranjak dari kursi, melangkahkan kaki, meninggalkan dia untuk kembali sendiri. Aku tak menoleh ke belakang sama sekali.
        Gawaiku bergetar. Sebelum aku menaiki motor, kubuka notifikasi yang masuk. Ternyata itu adalah notifikasi yang masuk ke surelku sebagai pemberitahuan bahwa ada tulisan terbaru dari blog yang kuikuti. Tulisan yang seolah menjawab apa yang telah kutinggalkan di laptopnya itu.
Aku mendesah pelan. Carinae, kapan kita akan benar-benar selesai? Harusnya kita telah menjadi sepasang perasaan asing. Namun, hingga detik ini pun ternyata ... belum. Masih kutemukan cinta itu di matamu.

No comments:

Post a Comment

THEME BY RUMAH ES