Wednesday, 16 May 2018

Menyatu

            Dengan hujan, aku telah menyatu. Kapan ia akan menyapa, aku bisa merasa. Di mana ia akan jatuh, aku mampu tahu. Hujan dan aku telah lama berbagi jiwa yang satu. Sejak dulu, sejak aku bahkan belum mengenalmu, ia telah memberikan pertanda. Katanya, suatu hari, aku akan bertemu dengan seseorang yang setara kecepatan cahaya, masuk ke dalam hatiku dan menguncinya tanpa ragu.
            Kala itu, aku tak benar-benar mendengarkan hujan, tak memercayainya sebab merasa itu tak mungkin terjadi. Bagaimana bisa ada sosok yang menempati hatiku tanpa permisi juga aba-aba? Namun, aku salah. Sepertinya hujan tersenyum sekaligus tertawa ketika aku menemukanmu di antara mereka. Entah bagaimana mekanismenya, di antara manusia lain yang berada di sekitarmu, justru kau yang terlihat dan benar-benar langsung mengunci hatiku.
            Ajaib. Kadang sesuatu harus benar-benar terjadi terlebih dulu agar bisa dipercayai. Begitulah yang terjadi padaku. Padahal, alam telah mewanti-wanti. Angin seolah sengaja tidak berembus sebelum aku melihatmu. Mentari seolah sengaja mengarahkan seluruh sinarnya padamu. Tanah seolah menahan langkahku pada saat itu. Aku hanya terpaku.
            Meskipun tahun telah berlalu, kau tak lagi ada dalam hariku, aku masih menunggu. Bukan sepenuhnya menunggumu, melainkan menunggu hujan kembali menemuiku. Aku merindukan hujan ketika kering mendera. Aku ingin hujan datang ketika hati benar-benar merasa hampa. Bukan hal yang mudah ketika aku tak tahu apa yang akan terjadi, sedangkan biasanya aku tahu.
            Saat ini yang kutahu adalah kedalaman seperti apa yang menanti ketika aku akan terjatuh. Kegelapan seperti apa yang menyambut ketika aku akan berjalan terus. Keheningan seperti apa yang menunggu ketika aku meminta semua orang untuk mundur. Warna langit apa yang akan muncul ketika aku justru malah menunduk. Aku tahu benar seperti apa keadaanku kini yang tengah mencintaimu. Karena itu, aku telah menyiapkan segalanya.
            Aku telah menyiapkan hati yang lebih kuat agar tidak lagi patah, hancur, juga beterbangan seperti debu hingga tak lagi memiliki bentuk. Aku telah menyiapkan perasaan yang takkan pupus meski waktu terus menggerus. Aku telah menyiapkan jiwa yang lebih hebat untuk bisa melindungi dan menjagamu setiap saat. Aku telah menyiapkan cerita baru untuk kita yang telah hilang di masa lalu.
            Aku tak tahu apakah kita pada akhirnya akan benar-benar bersatu atau tetap seperti ini—terikat ketidakpastian yang menyenangkan. Aku tidak tahu apakah di dalam hatimu masih ada aku. Aku tidak tahu apakah setiap hujan jatuh padamu, kau mendengar salam dariku. Apa pun itu tentangmu, kini aku tak banyak tahu. Namun, percayalah bahwa dengan hujan, aku benar-benar menyatu. Aku hanya tinggal menunggu ia menyampaikan sesuatu darimu.

No comments:

Post a Comment

THEME BY RUMAH ES