Friday, 6 July 2018

Kau Tak Tahu Aku Ada

            Dahulu, aku memiliki mimpi untuk menjadi sepertimu, mampu membelah jalan dengan cepat, melesat, tanpa ada sedikit pun rasa takut yang tersemat. Saat itu, aku tak berpikir mengenai apa pun, yang aku tahu, aku hanya ingin menjadi cepat. Entah apa yang akan aku kejar. Aku hanya merasa bebas ketika dapat melaju dengan cepat. Kala itu, aku tak tahu jika kau ada.
            Tahun telah berkali-kali berganti, tapi mimpiku masih saja sama. Aku memang hanya seseorang yang memiliki banyak mimpi dan angan, menumpuk asa dan cita. Walupun aku tahu aku tak dapat meraih mimpiku, tak pernah kubuang mimpi itu. Suatu hari mungkin aku akan tersenyum ketika menyadari betapa polosnya aku saat memiliki mimpi sebesar itu. Mimpiku tak tercapai, tapi aku akhirnya mengetahui bahwa kau ada.
            Senang bukan kepalang ketika mengetahui bahwa ada seseorang di luar sana yang memiliki mimpi serupa. Rasanya aku tak sendiri. Aku merasa tak perlu lagi merasa kesal ketika mereka menertawakan mimpiku yang katanya tak wajar. Namun, kau membuktikannya. Melaluimu, mereka menjadi tahu bahwa mimpiku bukan hanya ocehan anak kecil yang tak bernilai. Karena dirimu, aku tak lagi takut meskipun kau tak tahu aku ada.
            Kalau saja aku mengetahuimu lebih cepat, mungkin aku bisa melihatmu melesat. Sayangnya, aku terlambat. Melihat sesaat pun aku tak sempat. Hingga detik ini, aku masih menunggu, siapa tahu akan ada waktu yang tepat. Aku mengagumimu, sangat. Mungkin aku hanya satu dari sekian banyak orang yang juga mengagumimu, tentu kau tak pernah mengetahui siapa aku. Bahkan, kau tak tahu aku ada.
            Aku hanya menjadi pengagum rahasia. Tak bisa aku berbuat apa-apa karena rasanya percuma. Kau begitu jauh, tak tersentuh. Kau tinggal di planet yang sama denganku, tapi aku merasa jarak kau dan aku seperti jarak galaksi Bimasakti dan Andromeda. Bahkan, meskipun kau dan aku hidup di bumi ini, kau dan aku seolah hidup di dunia yang berbeda. Kau tidak tahu bahwa aku dilahirkan di dunia ini, bukan? Kau tak tahu aku ada.
            Kukira takkan ada yang berubah. Namun, seiring hari bertambah, ternyata perasaanku berubah. Aku bukan sekadar mengagumimu. Maaf kalau aku lancang, tapi siapa yang bisa mengendalikan perasaan? Menyangkal mungkin adalah satu-satunya cara untuk berpura-pura, tapi ternyata sia-sia. Selalu saja ada yang terasa berbeda ketika aku melihatmu meskipun bukan di dunia nyata. Apalagi, setelah aku bertemu denganmu di alam bawah sadarku. Di alam sadar, kau tak tahu aku ada.
            Melihatmu tersenyum—padaku—seperti itu membuat pipiku terasa hangat. Ada yang berdesir, ada yang berdetak lebih cepat. Meskipun hanya sekelebat, semuanya terekam di benakku begitu kuat. Hingga mataku membuka, aku merasa kau masih ada. Namun, bagaimanapun, kau tak pernah ada bersamaku. Tidak, tentu saja, takkan pernah karena kau tak tahu aku ada.
            Aku hanya ingin menjalani hari bersamamu, berbagi tawa juga cerita denganmu. Di tempat yang sama, aku ingin kau melihat ke arahku. Aku ingin melangkah bersamamu, belajar untuk tinggal di dunia yang sama denganmu. Aku ingin suatu hari memiliki waktu bersamamu. Akhirnya aku tahu apa yang ingin aku kejar—dirimu. Aku menginginkanmu meskipun aku tahu kau takkan pernah tahu. Harus seberapa cepat aku agar bisa berada di jalan yang sama denganmu? Hingga detik ini pun, kau tak tahu aku ada.
            Entah sampai kapan aku akan seperti ini—menyimpan perasaan dalam diam. Aku hanya tak ingin mengusik hidupmu yang tenang, tak ingin mengganggumu yang telah hidup dengan senang. Aku tak ingin senyum yang terbit itu tiba-tiba menghilang. Biar saja aku seperti ini. Kau tak usah memikirkanku. Kau pun tak perlu khawatir. Sampai kapan pun, kau tak perlu peduli sebab kau tak tahu aku ada.
            Jika suatu hari nanti aku melihatmu berbagi hidup dengan yang lain, mungkin hatiku akan remuk. Namun, tenang saja, aku memiliki kekuatan untuk memulihkan diri sendiri. Asalkan kau bahagia, aku tak perlu khawatir. Setidaknya, telah ada yang mampu mengabadikan senyummu. Di sini, aku hanya menulismu, tapi aku telah mengabadikanmu. Walaupun aku tak abadi, kuharap ingatan tentangmu tak mati. Kautahu, mungkin hingga nanti aku mati, kau tak tahu aku ada.
            Teruslah melesat bersama mimpimu, berkembanglah dengan pesat, tapi sesekalilah kau beristirahat. Mungkin ada baiknya untuk sekali-dua kali kau melambat agar aku bisa mengucapkan selamat, tidak hanya berdiri mematung mengingat. Aku tak bisa meraih mimpiku. Namun, dengan melihatmu terus mencintai mimpimu, aku merasa telah lebih dekat dengan sebuah ketidakmungkinan yang pernah aku semogakan. Berjanjilah padaku untuk menjadi lebih cepat meski aku bukan siapa-siapa dan selamanya kau tak tahu aku ada.

No comments:

Post a Comment

THEME BY RUMAH ES