Sunday, 12 August 2018

Mata Setua Jagat Raya

Kali pertama melihatmu, tubuhku membeku. Tak ada yang bisa kulakukan selain mematung, berusaha menenangkan detak jantungku yang dengan hebat menderu. Sekali pun tidak pernah aku seperti itu. Ada sesuatu yang tiba-tiba melesat begitu cepat, menyentuh inti jiwaku. Sejak hari itu, semuanya tak lagi sama—terutama hatiku.
Kala kau mulai masuk ke kehidupanku, tak lagi ada dinding yang harus kauhancurkan. Dengan otomatis semua pintu terbuka, menyambut dengan lapang aku kepadamu. Saat itu mungkin kau tak tahu bahwa kehadiranmu pernah menjadi suatu kemustahilan yang kuyakini setiap hari, di setiap waktu yang kujalani.
Saat itu kau tak perlu susah payah membuat aku jatuh cinta. Kau hanya tidak tahu bahwa sejak pertama, aku sudah mencintaimu tanpa pernah berpikir akan lelah jua menyerah. Padahal, tak ada yang kuketahui tentangmu, tak ada alasan yang membuatku jatuh cinta padamu. Bila memang ada, mungkin hanya satu—kau adalah orangnya.
Aku merasa bahwa pertemuan kali itu bukanlah pertemuan tanpa arti. Kau adalah orangnya. Kau adalah satu yang tak pernah kucari, tetapi justru mampu menggenapi. Kau adalah segala yang tak mungkin terjadi, tetapi justru benar-benar nyata, bukan hanya mimpi. Kau adalah ketidakmungkinan yang ternyata mewujud kenyataan.
Ketika kau menatap mataku, yang kulihat adalah sepasang mata yang takkan pernah kulupakan seumur hidup. Di dalam matamu, ada sesuatu yang membuatku tenggelam, begitu dalam. Ada pusaran yang menarikku, tak membiarkanku lepas meski hanya sebentar. Terus berputar, membuatku tak bisa keluar.
Ketika aku melihat tepat ke manik matamu, yang kulihat adalah ruang lain, sebuah ruang yang berada di antara alam semesta, tetapi tak terlihat di langit berbintang. Begitu jauh, hingga bila aku mampu terus menatap matamu lebih lama, aku akan berada di sana—di dunia yang berbeda.
Sejak kali pertama mengetahui bahwa kau ada, rasanya seperti aku telah mengenalmu begitu lama. Padahal, kita sama-sama tak pernah saling bercengkerama sebelumnya. Namun, entah mengapa, jiwaku tak sedikit pun merasa asing pada jiwamu, seperti memang sudah pernah bersama lalui waktu.
Kala kita saling bertukar kata melalui mata, aku menyadari satu hal. Mata itu, mata yang telah hidup begitu lama. Sepasang mata yang tak pernah kehilangan cahaya meski membutuhkan waktu cukup lama untuk bisa meyampaikan segalanya pada mataku yang butuh menyala. Pada dirimu, kutemukan mata setua jagat raya.
Begitu banyak yang kausimpan. Begitu banyak yang kausaksikan. Begitu banyak yang telah kaulihat melalui matamu yang kejora. Kadang ingin aku bertanya, seperti apakah mataku di matamu? Apakah seperti fajar yang menghangatkan? Apakah seperti bintang yang gemerlap? Apakah seperti aurora yang mengagumkan? Apakah seperti langit yang tak bosan dipandang? Apakah seperti laut yang bening menenangkan? Bagiku, sepasang matamu adalah yang terindah yang pernah kulihat.
Suatu hari nanti bila kita bertemu lagi, satu-satunya yang kuinginkan adalah menatap matamu. Sekali lagi saja. Biarkan aku tenggelam, tersesat, tinggal, dan menua di sana, di dalam matamu yang setua jagat raya. Izinkan aku melihat apa yang selama ini kaulihat. Izinkan aku merekam apa yang selama ini kausimpan. Izinkan aku menceritakan apa yang selama ini kausaksikan. Izinkan aku memberitahukan pada semesta bahwa kita berasal dari satu reaksi fusi yang sama.

No comments:

Post a Comment

THEME BY RUMAH ES