Wednesday, 27 February 2019

Bersama dalam Perjalanan

            Segalanya berubah. Di dunia ini, tak ada yang benar-benar tetap—kecuali perasaanku. Semua sekadar hinggap, berlalu seiring embusan angin yang menerbangkan segala asa dan doa. Ke arah langit, aku selalu memandang. Semoga, semoga saja, segala yang kutitipkan dapat mencapai kejauhan—mencapaimu.
            Orang-orang pernah berkata bahwa sosok yang tepat akan datang di waktu yang tepat. Apakah itu dirimu? Jika bagiku kaulah sosok yang tepat itu, mengapa aku merasa kau tidak datang di waktu yang tepat? Kadang aku berharap jika kita bertemu nanti saja, ketika segalanya sudah tepat, ketika memang itulah saatnya. Kadang aku memikirkan segala kemungkinan kalau saja kau tidak datang dulu, ketika hati kita sama-sama tidak utuh. Mungkin segalanya akan berbeda.
            Kau akan ada di sini. Sekarang. Bisa saja, kau justru masih berada entah di belahan bumi mana lalu suatu hari kita baru bertemu dan semuanya akan mengalir begitu saja. Namun, segalanya telah terjadi. Tak ada yang namanya kebetulan. Kau—entah mengapa—datang ke dalam hidupku di waktu dulu. Kautahu, hingga detik ini aku tak pernah lupa momen itu.
            Kita melalui waktu berdua. Kita pernah benar-benar berdua. Kita pernah berbagi tawa juga air mata. Kita pernah menjalani masa atas nama cinta. Kita pernah menciptakan kenangan juga kisah tak terlupakan. Kita pernah bersatu hingga akhirnya takkan pernah lagi menjadi satu. Kita kembali asing seperti dulu, menjalani kehidupan masing-masing, berpura-pura tak pernah ada yang terjadi.
            Kau tidak ada di sini. Aku tidak ada di sana. Kita tak ada di tempat yang sama. Kita tak ada lagi. Tak ada kita lagi. Tak lagi ada kita. Kita tak lagi ada. Hanya ada aku di tempat yang sama, dengan segala yang selalu sama. Di kejauhan sana, kau berada dengan semua yang selalu berubah. Kita memang berbeda. Kita tak pernah sama. Namun, bukankah Tuhan tahu bahwa pernah ada di antara kita sesuatu yang sama—cinta?
            Aku tidak pernah menyesal. Mungkin Tuhan memang sengaja mempertemukan kita dulu, bukan sekarang, bukan pula di masa depan. Tuhan tahu bahwa kapan pun Dia mendatangkanmu, aku sudah pasti akan mencintaimu—tak kenal waktu. Bukankah sebaik-baik rencana adalah rencana Tuhan? Aku memercayainya, sangat. 
            Atas segala yang telah terjadi, aku bersyukur sepenuh hati. Kautahu, bisa melewati hari denganmu pun sudah membuatku amat bahagia. Mungkin kita tidak lagi di jalan yang sama. Mungkin sejak awal kita memang berbeda tujuan. Mungkin sejak awal kita dipertemukan untuk saling membantu menemukan. Setidaknya, kita pernah bersama. Kita telah begitu lama bersama dalam perjalanan. Sebuah perjalanan untuk menemukan—dan kehilangan. Aku menemukanmu, yang kemudian diikuti dengan kehilanganmu.
Kau menemukan dia. Peranku selesai. Aku telah menemanimu dalam perjalanan ini. Aku telah mengantarmu untuk menemukan seseorang yang kauinginkan. Kita berpisah karena tak lagi searah. Perjalananmu telah selesai, sementara aku masih terus berjalan entah sampai kapan, entah hingga ke mana. Hatiku selalu menujumu, langkahku mengarah padamu. Namun, rasanya tak akan pernah lagi ada temu.

                     
             Suatu hari ketika aku telah berada di ujung jalan, aku tahu bahwa yang akan ditemukan adalah langit yang luas untuk kupandang, bermiliar bintang yang bersaing untuk benderang, juga separuh jiwa yang hilang. Sepanjang perjalanan, aku tahu takkan ada yang membuatku berhenti berjalan. Aku takkan pernah bisa melihat ke arah lain karena di mana pun itu, yang kutemukan adalah dirimu yang telah berupa bayang. Hingga nanti, aku akan selalu ingat bahwa meskipun takkan pernah lagi ada kesempatan untuk kita, setidaknya, sekali saja, kita pernah bersama dalam perjalanan. 

No comments:

Post a Comment

THEME BY RUMAH ES