Friday, 25 October 2019

Berteman Angan

            Di hadapanmu, aku ingin selalu memasang senyuman. Namun, bertemu denganmu pun entah kapan. Sejauh langkah ini memanjang, semua masihlah sebuah harapan, belum jua mewujud kenyataan. Bisakah suatu hari kita sengaja berjanji untuk meluangkan waktu demi sebuah pertemuan? Meski pertemuan itu akan berakhir dengan perpisahan, aku akan tetap datang membawa angan. Meski pertemuan itu akan menjadi sebuah penutupan, aku akan tetap membawa impian.


            Ketahuilah, saat ini aku tak lagi begitu keras kepala menjadikanmu satu-satunya keinginan. Dahulu memang pernah, tetapi tak lagi setelah kita memutuskan untuk tidak berjalan di satu arah, menjemput masa depan bersama dengan cerah. Sungguh, ketahuilah, aku tak lagi berjuang keras untuk menjadikan diriku seseorang yang kauingat ketika membuka mata untuk kali pertama atau ketika menutup mata di penghujung hari yang lelah.
            Aku telah diliputi oleh kesadaran bahwa kita takkan lagi bersama sebagai dua orang yang saling mencinta seperti yang dahulu pernah ada. Aku tahu semuanya takkan lagi ada. Kita telah sepakat untuk mengakhiri segalanya. Kita telah bertekad untuk menyelesaikan semuanya. Namun, satu yang perlu kautahu; segala yang kita anggap selesai belum tentu benar-benar berakhir jika Tuhan belum menginginkan kita untuk usai.
            Sebagai manusia, kita hanya berusaha dan berencana. Tuhanlah yang menentukan segalanya. Maka, aku ingin merencanakan sesuatu; aku ingin berteman denganmu. Sungguh, aku ingin menjadi temanmu. Bukan lagi menjadi teman hidup, tentu. Kali ini, aku memintamu menjadi temanku dan membiarkan diriku menjadi temanmu. Bisakah kita berteman hingga akhir waktu?
            Tak perlu takut, aku benar-benar tidak lagi mengharapkanmu seperti dulu. Tak usahlah kau khawatir, aku benar-benar sudah sematang-matangnya berpikir. Aku akan memperlakukanmu selayaknya teman, bukan lagi sosok impian. Aku akan tertawa bersamamu dengan canda, tanpa diiringi gejolak dalam dada. Aku akan duduk di sampingmu sebagai teman, bukan seseorang yang akan dijadikan pasangan.
            Mari kita lalui waktu bersama kembali. Tidak hanya berdua, mari kita membentuk keluarga baru. Untukmu dan untukku, mari kita membuat lingkar pertemanan yang terasa seperti keluarga, bukan hanya datang untuk kemudian menghilang. Mari kita menjalani hidup dalam cerita baru, dalam kisah yang jauh berbeda dengan dulu.


            Jika benar kau tak lagi menyimpan rasa, aku yakin kau pun bisa. Jika sungguh kau tak lagi melihatku sebagai seseorang yang pada masa depan akan membersamaimu sepanjang waktu, aku percaya kau adalah teman yang sempurna. Jika Tuhan tidak menghendaki kita menjadi pasangan, aku berharap Ia merestui kita sebagai teman. Sungguh, sungguh, aku ingin tetap bisa menjadi bagian dari hidupmu, takpeduli jika aku tidak pernah lagi menjadi bagian dari hatimu.
            Dulu, kaulah satu-satunya angan. Di dalam dirimu, kutemukan bara yang menghangatkan jutaan khayalan. Di dalam hatimu, kutemukan sesuatu yang kausembunyikan dari seluruh dunia, tetapi tidak denganku. Di dalam jiwamu, kutemukan cermin jiwaku. Kau adalah angan yang sempurna untukku yang hidup di perbatasan kenyataan.
            Di mana pun kau berada, semoga kau merasakan. Ke mana pun kaupergi, semoga kau mendengarkan. Aku memanggilmu, teman. Aku ingin bertemu denganmu, mendengar leluconmu, melihat wajahmu yang dihiasi senyuman. Aku ingin menjadi bagian dari mereka yang melangkah bersamamu meraih impian. Aku sungguh ingin berteman dengan dirimu yang dulunya mengalahkan sekuat-kuat renjana, tetapi kini menyaingi setipis-tipis rencana. Menjadi temanmu akan membuatku tahu bahwa bahagia bisa berupa berteman angan.

No comments:

Post a Comment

THEME BY RUMAH ES