Thursday, 12 December 2019

Semenjak Kau Tak Ada

            Langit begitu gelap, seakan-akan takingin membirukan hatiku yang berselimut kelabu kabut. Seolah-olah dengan begitu, aku tak lagi menatapnya, mengarahkan pandang entah ke mana, menembus cakrawala, dengan benak yang mengembara pada masa lalu, kala semuanya masih ada. Kini, semua tinggal kilas memori semenjak kau tak ada.
            Derau terdengar sedikit menggetarkan sanubari. Rintik hujan dan embusan angin sekelebat tampak bertelingkah meningkahiku yang terus melangkah. Takpeduli basah, biarlah sudah, layak biasanya aku tidak berteduh untuk mengeringkan apa-apa yang basah, termasuk luka jua berbagai kata pernah. Tanpa lelah tanganku menadah, menangkup membentuk wadah, untuk segala pesan dari sepenggal pisah. Kukatup rapat bibir agar tidak melontarkan kesah semenjak kau tak ada.


            Bunga-bunga menyembunyikan mahkotanya, sengaja menunda mekar hingga aku tidak lagi menemukan kelopaknya yang membuat kaki sengaja berbalik memutar. Harumnya pun seperti sengaja tidak direbakkan agar aku tidak mendekati dan mengamatinya dengan lengkung senyum lebar setelah menanti dengan penuh sabar. Mungkin mereka berusaha mengingatkan bahwa tak bolehlah aku menanam asa lagi semenjak kau tak ada.
            Sepenuh seluruh, bukan hanya separuh, dunia yang melingkupiku luruh. Tidak lagi utuh, ruang antarkisi serempak ingin menyebarkan keluh yang selama ini telah sungguh kutahan dengan segala teguh. Takingin aku runtuh hanya karena tidak akan lagi melihatmu melemparkan bermacam pisuh. Seandainya saja kautahu, ceracaumu menjadi salah satu yang betul-betul kurindukan semenjak kau tak ada.
            Ingin aku menolak percaya, menyangkal senyata-nyata pertanda, tak mengindahkan seterang-terang berkas cahaya. Ingin aku tidak lagi melihat ke belakang dan terus berjalan ke depan dengan langkah yang cepat dan selebar bentang. Ingin aku menunduk pasrah menatap tanah dan tidak lagi menengadah melangitkan titik-titik resah jua menguapkan perasaanku yang menyejarah. Ingin aku denganmu benar terpisah. Ingin aku bersamamu benar usai tak bersisa. Ingin aku tentangmu semudah lupa. Ingin aku menjadi berbeda semenjak kau tak ada.
            Sayangnya, ingin memang sebatas ingin. Barangkali seharusnya aku sesederhana menerima. Segalanya, kendatipun aku sekeras baja berusaha, tetap menyadarkanku bahwa kau masihlah ada, di dalam hati yang tidak pernah lagi untuk siapa pun kubuka. Semesta begitu senang memetakan sosokmu di mana pun aku berada, ke titik mana pun mataku pirsa. Berhenti aku mengelak bahwa kau justru ada di mana-mana semenjak kau tak ada.


            Tidak pernah hilang kau sebenar-benarnya sebab segala tentang kita telah diterakan segenap jagat raya. Taktahu apakah sepasang mataku akan kembali melihat sepasang matamu. Taktahu apakah sabit di wajahmu akan kembali membuat senyumku ikut terbit. Taktahu apakah tawa yang membuat bahumu berguncang bergetar akan kembali membuat dadaku hangat bergelenyar. Taktahu apakah kau yang sering berkelakar akan kembali menduakalilipatkan jantungku berdebar. Hanya satu yang takluput dari tahuku. Engkau ada, masih ada, selalu ada, takkan pernah tidak ada semenjak kau tak ada.

No comments:

Post a Comment

THEME BY RUMAH ES