Saturday, 29 February 2020

Dibahagiakan Takdir

            Tak ada yang membuat lebih cemas daripada ketidakpastian. Padahal, satu-satunya yang pasti di dunia ini adalah ketidakpastian. Namun, tetap saja, ketidaktahuan tentang sesuatu yang akan terjadi sering kali membuat risau sendiri. Tentangmu, juga begitu. Terlebih, memang tentang kita.
            Pernah kukatakan jika suatu kala dirimu kembali hadir di hidupku, akan kucintai kau lebih dari sebelumnya dan akan kuperjuangkan kau berkali-kali lipat dari yang selama ini telah kulakukan. Sayangnya, aku tak memiliki banyak waktu. Serupa angin, kubilang tentangmu, memang benarlah begitu. Manasuka kaupergi dan aku akan kehilangan lagi.
            Sudah aku mencintaimu dengan melepaskan, dengan membiarkanmu terbang bebas tanpa pernah sekali pun menahan. Sudah aku hanya melihatmu berlari tanpa pernah memintamu berhenti dan menoleh kepadaku lagi. Sudah aku memastikan kau berbahagia tanpaku di hidupmu yang menyenangkan bersama dirinya.


            Kali ini, ketika yang pernah kurasa hingga aku berazam benar-benar mewujud nyata, bukan hanya mimpi, taktahu lagi apa yang harus kukatakan pada Tuhan. Sungguh, sungguh, dibahagiakan olehmu ternyata tidaklah ada apa-apanya dibandingkan dengan dibahagiakan takdir. Demi semesta yang menghubungkan kita, Tuhan tidak pernah tidur, selalu mendengar yang bahkan tak terucapkan.
            Kalaulah mentari harus berevolusi berkali-kali demi membawamu hadir di sisi, takkan pernah aku lelah menanti, layaknya selama ini. Meskipun hadirmu hanya sekejap dan tak pernah lama menetap, apa yang kautinggalkan untukku tidaklah pernah sesingkat singgah, tetapi abadi hingga nanti, hingga kau bahkan telah mati.
            Dibahagiakan takdir membuatku sadar bahwa seperti apa pun aku menolak percaya, semesta miliki banyak rahasia, yang satu per satunya akan tersingkap seiring pergantian masa. Di atas segala ketidakmungkinan, di balik seluruh kemustahilan, ada bisik hati yang mengetuk pintu harapan, ada tangan yang menuliskan keajaiban.
            Demi satu hatimu, tak pernah peduli aku mematahkan hati lain sampai seribu. Demi satu dirimu, tak kupikirkan kehadiran sosok lain yang menghampiriku. Demi satu jiwamu, tak kubiarkan jiwa lain menyentuh jiwaku meski hanya satu. Kepadamu, hanya kepadamu, aku berani mempertaruhkan dunia yang hanya satu. Kaulah satu dari tujuh miliar manusia yang akan kuperjuangkan, selalu.


            Aku telah memperjuangkanmu lagi meski terlalu cepat, tetapi sungguh aku takingin terlambat. Dunia ini tidaklah menentu, terlalu banyak yang bisa membuatku dan dirimu terpisah, lagi dan lagi. Namun, hendaklah kautahu; aku akan mencintai dan memperjuangkanmu sebanyak kali lipat pergi dan kembalimu.
            Kini, ketika akhirnya kau menghilang lagi, takdir tetap membahagiakanku. Tidak pernah aku menyesal sedikit dan sedetik pun tentangmu, tentang apa yang kulakukan, jua tentang kita yang kembali bersimpangan, tidak berdampingan. Segalanya bahkan terasa begitu cukup bagiku.
            Senyummu, tawamu, dan matamu yang kembali kulihat membuatku selalu tahu bahwa pada rentang waktu selama apa pun, pada bilangan masa kapan pun, pada bentang jarak sejauh apa pun, aku akan selalu mengenalimu, begitu pun dirimu akanku. Jiwa kita yang tahu; kita adalah satu.
            Jangan ragu untuk pergi, takusah takut untuk kembali. Aku akan selalu di sini, seperti batu yang tak mudah berpindah, serupa hujan yang hanya mengenal jatuh ke bawah. Terima kasih telah singgah, dengan cara yang ramah, meninggalkan hangat sejarah, menyisakan pasrah. Semoga, sebagaimana yang telah terjadi padaku, kau pun begitu—dibahagiakan takdir.

No comments:

Post a Comment

THEME BY RUMAH ES