Sunday, 12 April 2020

Atas Nama Hujan

            Atas nama hujan, aku sungguh-sungguh mensyukuri segala yang pernah ada di antara kita. Entah apakah sebenarnya yang membawa kita sampai ke sini, yang mempertemukan kita dahulu kala, yang membuat kita merasa memiliki mayapada yang hanya dimengerti tiap-tiap kita.


            Atas nama hujan, berani aku berkata bahwa jiwa kitalah yang saling menemukan manakala raga kita bahkan tidaklah saling mengenali. Terpujilah sang kala yang mengisi ruang di antara kita, sebelum segalanya menjadi berbeda dan tidak akan pernah lagi menemui kata sama. Rencana Tuhan betul-betul presisi dan sempurna; tentang pertemuan kita, tentang terpisahnya kita, tentang terikatnya kita, tentang kosongnya kita, tentang hilangnya kita, jua tentang utuhnya kita bersama.
            Atas nama hujan, pernah aku benar-benar ingin lupa, menghilangkan segala tentangmu yang tak lagi seharusnya kuingat sebab tak pantas lagi aku mencintai memori saat sadar semua tak bisa diulangi. Terkadang dalam benakku tersirat bahwa yang sesungguhnya selalu kujaga adalah kenangan tentang kita, bukan rasa yang ada; bahwa yang sebenarnya selalu kucintai adalah ingatan tentangmu, bukan dirimu.
            Atas nama hujan, telah aku upayakan berbagai usaha—pergi, menghilang, menolak percaya, mengabaikan pertanda, mematikan hati, bersembunyi, lari. Akan tetapi, tiadalah yang benar-benar mampu membuang perasaan dan membalikkan hati kecuali Tuhan yang menghendaki. Semesta seakan-akan tak pernah bosan menunjukkan padaku hingga sekecil hal tentangmu.


            Atas nama hujan, ada kata-kata yang pernah kutitipkan di antara rintiknya yang terbawa dingin angin. Pernahkah mencapaimu? Pernahkah kaudengar bisikan hatiku? Pernahkah kau menemukanku ketika kau bahkan telah melupakan seluruhku darimu? Pernahkah kau merasakan ada aku yang selamanya tidak mampu menghilangkanmu meski hanya dari sesedikitku?
            Atas nama hujan, aku mengaku; kaulah satu-satunya inginku. Semesta sudah pasti tahu jika semenjak jiwaku melihat jiwamu, tak ada selainmu. Hanya kamu. Hanya dirimu. Hanya satu kau yang kubiarkan menggetarkan langit bersamaku. Di mana pun aku berada, pada waktu apa pun aku tinggal, teguh aku kepadamu, yakin aku akan selalu menemukanmu seiring menunggumu menemukanku.

2 comments:

  1. Semuanya kata²nya ku suka puitis banget, ngenaa, speechless deh. Tampilan blogmu juga keren. Ku suka yang, "bahwa yang sebenarnya selalui kucintai adalah ingatan tentangmu, bukan dirimu." Dan terakhir, "yakin aku akan selalu menemukanmu seiring menunggumu menemukanku."

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih banyak, ya, sudah berkunjung dan meninggalkan jejak ^_^

      Delete

THEME BY RUMAH ES