Sunday, 29 November 2020

Berbanding Seluruh Dunia

             Langit tidak pernah kosong. Awan tidak pernah diam. Angin tidak pernah sia-sia. Segalanya membawa pertanda, menyiratkan pesan yang hendak disampaikan. Sesuatu sudah, sedang, atau akan terjadi. Aku hanya perlu mengikutinya, tanpa menolak, tanpa mengelak, juga bukan sekadar menebak-nebak. Pernah aku terjebak; ketakutan akan penafsiran yang berbanding terbalik. Pelik.

            Pernah aku lepas tertawa hingga lupa kapan kali terakhir bahuku berguncang. Pernah pipiku merona begitu merah hingga lupa apakah aku sedang bermimpi atau masih terjaga. Pernah aku menatap kehadiran cermin jiwa hingga lupa bahwasanya tidak semua yang dicintai bisa dimiliki. Pernah aku mengangankan sepetak hal hingga lupa jikalau segalanya akan tergulung masa.

            Kita tak pernah tahu apa yang akan terjadi. Kehadiranmu—senyum selebar paruh purnama, tingkah yang jenaka, suara yang sejenak menghentikan detak dalam dada, jua mata pemilik juta rahasia—membuatku bertanya-tanya, apakah yang sebenarnya kita tahu? Adakah sesungguhnya cinta yang murni itu?

            Aku lupa bahwa seluruh kita telah luruh, sampai memiliki waktu untuk memandangmu cukup jauh kembali membuatku luluh. Aku lupa bahwa semuanya telah tiada, sampai mendengar tawamu yang kurindukan menggetarkan lagi sanubari. Di antara hujan yang rinai, merambat hangat rona yang kuharap tak terlihat. Di tengah tawa yang renyah, ada yang memulangkanku pada sebuah rumah.

            Kau, benarlah, satu yang berbanding seluruh dunia. Ingin kuhentikan menit yang mengimpit agar kita bisa lebih lama di sini, di perbatasan pergi dan kembali. Ke mana lagi kita harus pergi dan saling menjauh? Ke mana lagi kita harus kembali setelah merasa rapuh? Kepadamu segalaku menuju; cukup satu. Namun, dirimu, kepada dirikukah menyisakan hidup yang sementara?

            Tak ada lagi kata-kata, semua menguap di udara bahkan sebelum membentuk suara. Tak ada lagi angan-angan, harapan tinggallah kenangan. Tak ada lagi mimpi-mimpi, kenyataan jelas di depanku saat ini. Kau, duniaku, adalah yang tak pernah bisa kuhentikan berputar. Layaknya waktu, aku hanya mampu membiarkanmu melaju, bahkan terburu.

            Kelak, tatkala seberkas kilas menegas lampaui batas, bersamamu ingin aku lepas, semua diterabas. Tak ada rasa takut, tak perlu memikirkan yang lain. Hanya kau; cinta yang murni. Perasaan kita akan mengalir bebas. Tentang seketika lupa, tentang ingatan yang diharapkan hilang, kita akan mencari dan menciptakannya lagi. Untuk dirimu, yang lebih dari dunia, aku tak ragu terus menunggu.



No comments:

Post a comment

THEME BY RUMAH ES