Sunday, 24 January 2021

Waktu Pulang

Sial. Mengapa masih terasa ada yang mengganjal? Bukankah semuanya telah selesai? Sudah berbeda kota pun, mengapa rasanya masih tak ada yang benar-benar usai? Padahal, aku yang memintanya, aku yang jelas-jelas ingin tak ada apa-apa lagi di antara kami; semuanya sebatas masa lalu. Kini mengapa aku merasa dunia terbalik?

Langkah ini terhenti. Kepalaku menengok ke sebuah tempat yang baru saja dilewati. Ada yang mengusikku. Seperti digerakkan oleh sesuatu, aku berbalik badan, memutuskan masuk. Namun, setengah diriku merasa bahwa ini adalah suatu tindakan bunuh diri.


Kenangan menyergapku, seketika membuatku menahan napas. Perlahan aku melangkah, menelusuri rak demi rak yang menjulang menutupi dinding. Ah, betapa lekat apa yang kulihat ini dengan dia yang jauh di sana. Aku yang meninggalkannya, aku yang pergi, aku yang menciptakan jarak, aku yang menjauhi dirinya.

“Kamu pasti suka tempat ini,” bisikku. Tanpa sadar, segurat senyum mengembang di wajah ketika mengingat dia yang ingin kulupakan. Betapa keras aku berusaha, betapa tanpa letih aku mencoba, hasilnya tetap sama; dia ada di mana-mana.

Aku seakan-akan melihat senyum di wajahnya manakala mataku memandang bulan yang sabit. Hangat suasana ketika bersama dia, kurasakan jua di bawah sinar mentari yang menyinari hari. Aku tak habis pikir, setelah terpisah jauh dan lama pun, segalanya masih begitu dekat.

Tunggu. Mataku terpaku pada sebuah nama. Aku mengambil buku yang di sampulnya tertulis nama itu dan membaca sekali lagi dengan saksama. Tidak salah lagi, ini bukunya, tulisannya, hasil karyanya. Kupikir selama ini dia hanya bergurau, menulis kalimat-kalimat galau. Memang, tidak semua tulisannya bernuansa sendu, malah banyak juga yang lembut menyentuh hati, membuatku kadang tersenyum sendiri.

Dia berhasil meraih mimpinya—tanpaku. Yah, baguslah. Sedari dahulu aku ingin melihat dia terus bersinar. Sepasang netra itu, yang cemerlang tatkala bercerita tentang mimpi, tak pernah membuatku jemu untuk menatap selamanya. Andai aku bisa. Ah, tetapi itu hanya masa lalu.

Sayangnya, tak bisa kukendalikan jantung yang berdebar saat membuka lembar demi lembar. Membaca tulisan yang ada di halaman persembahan membuatku sadar bahwa aku ternyata bagian dari mimpinya.

Untuk seseorang yang abadi dalam hati juga ingatan, bahagialah sepanjang kehidupan.

Aku jadi ingat dia pernah berkata ingin hilang ingatan. Tak kutahu alasannya apa, tetapi mungkin karena dia pun merasa kesulitan melupakanku. Apakah aku abadi di hatinya? Apakah aku masih berarti di hidupnya? Aku sungguh taktahu. Hal terakhir yang kuingat tentangnya adalah saat dia tidak menahanku pergi. Tidak ada drama ketika aku mengatakan ingin menyelesaikan cerita. Mungkin karena dia tahu bahwa setiap cerita selalu memiliki akhir.

“Hei, kamu apa kabar?” Aku bertanya pada buku. Kuakui, kerap kali tanpa sadar aku menggumam, berbicara sendiri, melayangkan tanya yang entah apakah akan ada jawaban yang tersangkut atau tidak sampai maut menjemput.

Beberapa lama aku tenggelam dalam kerinduan, juga penyesalan. Entah mana sebenarnya yang membuatku merasa menyesal; mengenal dirinya atau pergi darinya. Kututup buku dan menyimpannya kembali, tak bisa terus seperti ini.

Segera aku merogoh saku, menggulir layar ponsel, mencari sebuah nama yang selama ini masih kusimpan. Seiring kaki yang melewati pintu perpustakaan, pesanku melewati udara, terkirim padanya.
Hai. Kamu di mana?
Aku tak pernah tahu kabarnya, tetapi yakin kami masih terhubung satu sama lain. Apa pun jawabannya, aku akan pulang. Semoga kali ini aku tepat waktu.

*** 

Ingin berkata tak mungkin, tetapi mataku belum bertambah minusnya. Ya Tuhan, aku terbiasa ingat pada mimpi dalam tidurku, tetapi untuk mimpi yang satu ini, yang membuatku ingin hilang ingatan saja, bolehkah aku tiba-tiba lupa? Aku lupa kapan kali terakhir melihat namanya di layar ponsel. Sebaris nama, cukup sebaris nama itu, sudah mampu membuat napasku terhenti seketika. Aku lupa kalau selama ini sudah menghapus kontaknya, tetapi tak pernah menghapus segala tentangnya.

Hah ..., sampai lupa aku membuang napas, bisa-bisa karbon dioksida menumpuk di paru-paru. Berusaha tetap berpijak di bumi, aku mengamati notifikasi yang selama ini dinanti walaupun kami sudah tak ada apa-apa lagi. Hm, ingin jempalitan saja rasanya karena dahulu yang ada di benakku adalah satu-satunya notifikasi berupa undangan.

Meskipun begitu, sebenarnya masih kurasakan bahwa suatu hari dia akan kembali, ke sini, ke tempat yang dia tahu aku takkan pergi. Tentu saja, semua orang bisa menyatakan bahwa itu hanya sebuah delusi. Perihal cinta, kepada siapa aku bisa menjelaskan? Segala yang kurasakan hanya aku yang memahami, bukan? Jadi, jawaban yang sudah kusiapkan sejak lama, sebuah ucapan selamat untuk dia yang hatinya telah tertambat, sekaligus bahagiaku yang turut mengiringi mereka, tentu sudah siap kukirimkan. Dengan menutup mata terlebih dahulu, kubuka pesan itu.

Bukan main! Demi hujan, demi angin, demi matahari, demi bulan, demi langit, demi apa pun yang selama ini mendengarku menerbangkan namanya, mataku seperti tak mau memejam barang sedetik. Ini undangan! Lebih tepatnya, undangan untuk kembali ada di hidupnya.

Sebentar. Hatiku sudah di luar angkasa semenjak nama itu melintas di layar, lalu kini harus ke mana lagi? Besok-besok aku akan membeli tiket reservasi menuju Mars, siapa tahu sudah tak sanggup tinggal di Bumi, yang di dalamnya ada dia. Bisa-bisanya dia bertanya aku di mana seperti tiap kali dia akan ke rumahku. Sudahlah, itu cuma masa lalu.
Kenapa?
Tujuh huruf yang kuketik semoga mewakili tujuh langit yang berusaha kutembus selama ini untuk mencapainya. Telah kubentangkan jarak, sengaja aku pergi dari tempat yang selama ini kutinggali meskipun masih merasakan sesuatu yang mengganjal; dia akan kemari. Namun, sekali lagi, hidup ini tak cukup pakai hati. Maka, di sini aku sekarang, sengaja waktu kurentang; menghilang.

Sayang seribu sayang, aku ditemukan. Satu desiliun sayang kalau bisa, saking ingin menolak percaya, sekaligus yakinku kepadanya sempurna.
Kamu ada waktu?
Tak perlu menunggu lama, seperti selama ini menunggu kembalinya, balasan itu telah kuterima. Tentu kubalas secepat pembalap Formula 1 mengemudikan mobil andalannya.
Tuhan yang menciptakan waktu.
Aku yang mengulurnya. Tentu saja sengaja kuulur waktu sedemikian rupa agar percakapan ini tak segera selesai—seperti cerita kami. Namun, tidak semudah itu.
Aku tiba-tiba mau ketemu kamu. Besok?
Dasar si tiba-tiba, dari dulu selalu begitu kelakuannya. Besok katanya? Gila.
Aku baru pulang minggu depan. Kopi oke, nih.
Keningku berkerut ketika mendapat balasannya yang di luar nalar.
Oke, aku pulang besok pagi.
Sebentar. Jariku seketika berkejaran saking bingungnya.
Eh, pulang?
*** 
Baru pulang?
Pesan kami muncul bersamaan di layar. Ini kami yang bodoh atau bagaimana? Ada yang salah dengan kata pulang yang kukirimkan? Aku sendiri merasa asing dengan kata pulang yang dia kirim. Sungguh, seperti yang sudah kukatakan, apa pun jawabannya, aku akan pulang. Aku akan menanti di depan rumahnya, menunggu beberapa menit sampai dia muncul dengan wajah cemberut dan menggerutu sepanjang kereta api, merutuki kedatanganku yang seenaknya.

Rencananya begitu. Memangnya mau bagaimana lagi? Namun, mungkin dunia berkata lain. Jangan-jangan dia memang tidak ada di rumahnya? Sedang berliburkah? Apa pun itu, yang jelas aku akan sabar selama tujuh hari walaupun rasanya sudah tidak sabar juga melihat dia yang sekarang.

*** 

Aku hanya mengiakan pesan itu, dia pun demikian. Entahlah, aku tak bisa berpikir jernih. Bahkan, kalau bisa, sekarang aku ingin izin pulang karena jam kantor masih panjang, jam istirahat pun baru beberapa menit yang lalu. Izin dengan dalih kurang sehat dipikir-pikir boleh juga. Toh, aku memang mendadak “kurang sehat”.


Rasanya tak keruan, kedatangan dia di hidupku kembali mengguncang. Akan ada apa lagi di depan sana? Omong-omong, aku belum menjawab ajakan lain dari seseorang yang selama ini menemani hariku karena masih ragu. Tujuh hari lagi aku akan memutar waktu; bertemu masa lalu. Menunggu tujuh hari tidak ada apa-apanya, kan, dibandingkan dengan tujuh tahun?

*** 

Setelah bertukar pesan sampai tengah malam, akhirnya tujuh hari yang ditunggu telah berlalu. Hari ini aku melihatnya duduk di tempat favoritnya: dekat jendela. Saat aku melangkah mendekati, dia mendongak, membuatku sejenak berhenti.

“Masih suka kapucino? Udah aku pesenin,” katanya dengan tingkat percaya diri yang tinggi.

Dasar sok tahu. Kebiasaannya memang begitu; belum aku duduk, dia sudah mengajak berbicara saja. Lalu tadi apa dia bilang? Kapucino? Mungkin dia berhasil hilang ingatan. Dalam hati aku mentertawakan diri sendiri. Apa yang masih kuharapkan?

“Silakan, Mas, Mbak.” Pelayan datang saat aku baru saja duduk.

Dua cangkir di meja membuat dahiku mengernyit sekaligus senyumku terbit. “Kirain kamu udah lupa.” Itulah kalimat pertama yang terlontar dari mulutku setelah bertahun-tahun tak pernah bertemu.

“Kirain kamu juga tahu aku di mana,” balasnya sembari mengerling jenaka. “Jadi, ada apa?”

Aku tak langsung menjawab. Setelah menyesap amerikano, menciptakan hening beberapa jenak, kurogoh saku bagian dalam jaket. Kuletakkan beberapa pilihan desain undangan.

*** 

Alamak. Benar saja kehadirannya kembali di hidupku ini dalam rangka sebuah undangan. Harusnya aku sadar kalau aku pun ... yah, tidak jauh berbeda.

“Kamu enggak berubah, ya,” ujarku seraya menatap sepasang matanya yang setajam mata elang. Ya Tuhan, sekali ini saja, izinkan aku mengatakan kalimat itu padanya. Sekali lagi saja, dunia dan seisinya, berkonspirasilah denganku untuk membuat dia tetap tinggal. Tak apa di meja ini dia tinggal, tanpa di hidupku.

Dia tertawa kecil kemudian bersuara, “Kamu juga masih gini-gini aja. Hidup kita mungkin—”

Drrrt. Drrrt.

Getaran ponselku menghentikan apa yang hendak dia katakan. Segera kuangkat telepon itu.

“Kamu minggu ini pulang, kan?”

Kulirik sosok di depanku sekilas sebelum menjawab, “Iya, udah, aku lupa bilang.”

“Kalau gitu, lusa aku jemput, ya, kita makan bareng keluarga aku.” Suara seseorang di seberang telepon terdengar semangat, tetapi aku malah merasa tersengat.

“Aku ... aku ....” Duh, sial, mendadak aku gagap. Dia sampai memandangku heran. “Aku belum siap. Kan, katanya mamamu galak. Nanti deh aku kabari lagi kalau udah siap. Ini aku lagi di luar.”

Terdengar tarikan napas diiringi tawa. “Galaknya enggak jauh beda sama kamu, enggak usah takut. Ya udah, nanti aku hubungi lagi, ya.”

Telepon terputus, tak sadar membuatku membuang napas. “Kamu mau bilang apa tadi?” Segera aku kembali memusatkan perhatian pada dia yang tengah melihat ke luar jendela.

“Ah, enggak penting,” sahutnya sembari mengibaskan tangan. Matanya kini tertuju ke meja. “Sekarang bantuin aku aja pilih mana yang paling bagus. Kamu, kan, oke nilai seninya.”

Aku menaikkan alis, mencermati beberapa pilihan di hadapan. Namun, tetap tak bisa kualihkan pandangan dari dirinya. Kuperhatikan gerak-geriknya; duduknya rileks, tetapi matanya tidak lagi menatap lekat mataku, tidak lagi memandangku dengan penuh rasa seperti dulu.

“Kamu kapan?”

“Apanya?” timpalku. Bertanya saja dia tiba-tiba.

Dia malah kembali melihat meja tanpa menjawab pertanyaanku. Maunya apa, sih? Aku tak pernah benar-benar memahaminya.

*** 

Ck, mengapa harus menelepon pada saat seperti ini? Dia kontan melirik ke arahku dengan pandangan bertanya, pasti heran mengapa aku belum juga mengangkat telepon yang masuk. Setengah hati akhirnya kuangkat.

“Say, kamu jadi, kan, ke rumahku besok sama keluarga? Keluarga aku udah nyiapin, lo, buat besok.” Suara yang ceria dan lantang, tetapi terkesan menuntut.

Sosok di hadapanku sudah kembali sibuk mengangkat dan menaruh pilihan desain undangan. Syukurlah, semoga dia tak mendengar, takut-takut suara dari telepon ini sampai terdengar saking kerasnya. “Kayaknya enggak jadi.”

“Hah? Kamu bercanda, ya?” Menggelegar, telingaku bisa saja rusak kalau tidak segera aku berbicara. Bahkan, dia sampai mengangkat wajah dan memandangku sejenak.

“Ya, aku bercanda kalau aku dan keluarga bakal bahas semuanya dalam waktu dekat,” ucapku dengan nada datar. “Bilang ke mereka, maaf aku belum siap.”

Kututup langsung telepon, tanpa mau mendengar omelan yang tidak akan enak didengar. Melihat kembali ke depan, dia menatapku tepat ke manik mata. Aku tak mengerti mengapa semuanya menjadi seperti ini. Aku taktahu lagi harus mengikuti logika atau hati. Semuanya rumit.

Dia yang ada di depan mataku, aku menyesal mengenalnya, tetapi aku lebih menyesal berkali-kali pergi darinya. Mungkin kini dia telah lelah, aku pun hanya bisa pasrah. Satu per satu harus kubenahi, mulai dari diri sendiri, sosok masa depan, sampai dia; masa lalu yang begitu sulit kuhapuskan.

*** 

Isi cangkir tinggal seperempat, untung aku sudah menentukan pilihan. “Aku suka yang ini.” Tanganku menunjuk sebuah desain undangan yang sederhana, tetapi ciamik, bagiku terlihat menarik.

Dia mengangguk-angguk lalu mengatakan, “Aku, sih, oke, enggak tahu kalau—”

“Mas Anang,” potongku segera.

Dia tersenyum. Manis betul senyum itu, mungkin akan semakin manis ketika telah mengarungi hidup baru dengan seseorang yang namanya tak sempat dia sebutkan.

Kuteguk sekaligus sisa kapucino. Sudah cukup lama kami di sini, kopi kami sudah sama-sama tak lagi hangat; seperti kisah kami, yang sudah menunjukkan kata tamat.

Aku melihat jam yang melingkar di tangan kiri. Tak terasa, ternyata kemampuan mengulur waktu itu tidak selamanya kumiliki. Aku merapikan undangan yang ada di meja, kemudian memasukkan ponsel ke tas.

“Ngapain?” Dia bertanya dengan gurat heran yang kentara.

Kujawab pertanyaan itu sembari menyelempangkan tas ke bahu. “Siap-siap.”

“Siap-siap apa?” tanyanya masih belum puas dengan jawabanku.

Aku menunjuk ke jam tangan. “Waktunya pulang.”

Dia langsung memasukkan semua undangan ke jaket. Aku pun melangkah tanpa mengatakan apa-apa, tetapi kudengar derap kaki menyusulku. Kulirik dia, yang ternyata tengah memandangku. Untuk beberapa saat kami bersitatap. Kedua mata itu ... tersenyum. Aku tidak salah lihat, kan? Dia adalah yang kukenali selama ini. Ternyata dia masih ada. Akan tetapi, bagaimana caranya memulai kembali bilamana semuanya sudah seperti ini?

Menyadari gelagatku yang ingin memalingkan wajah, dia menahanku dengan berkata, “Ya, waktunya pulang.”


No comments:

Post a comment

THEME BY RUMAH ES