Monday, 24 May 2021

Sampai di Sini Saja

             Sudah cukup; entah kali keberapa aku mengatakannya. Diri sendirilah yang selama ini kuperangi. Sebetulnya aku tak miliki cara apa pun lagi untuk berjuang, tetapi menyerah pun aku belum mau. Masih ada, kupikir, sesuatu yang bisa mengalahkan segalanya. Akan tetapi, bagimu jua sepertinya semua sudah cukup sampai di sini saja.


            Bagaimana caranya menjelaskan jika sesungguhnya aku tidak akan pernah berhenti, menyerah, dan selesai tentangmu? Sampai di sini saja, kurasa, apa yang harus kutunjukkan, biar Tuhan yang menentukan sebab aku hanya bisa merencanakan. Bukankah kita pula sama-sama tahu bahwa di depan sana yang terbentang adalah jalan buntu?

            Sampai di sini saja kita berjalan bersama, selanjutnya tak ada yang perlu dibicarakan lagi, tak ada yang perlu dijabarkan lagi. Caramu melangkah rasanya telah menjelaskan semuanya. Kau mencari jalan lain, sementara aku terus berjalan hingga terpaku di hadapan jalan buntu. Bukan, bukan aku memaksakan atau melawan takdir. Hanya saja, aku seseorang yang percaya bahwa di balik sana ada keajaiban. Aku yakin bahwa kebuntuan ini bisa diruntuhkan sebab menuju bahagia memang begitu banyak coba.

            Tak apa, kau tak perlu khawatir, aku bisa melakukannya sendiri. Aku terjatuh, sakit, hingga tiada pun, takusah peduli. Begitu, bukan, yang pernah kaukatakan? Maka, kali ini kulontarkan kembali padamu. Sampai di sini saja, kita sudah selesai, jadi seharusnya tak ada lagi yang diperdebatkan. Kerumitan ini telah berakhir kendatipun tentangmu aku takkan pernah mengenal akhir.

            Aku akan pergi, lagi, tetapi kali ini apakah benar-benar untuk lari darimu? Apakah sungguh-sungguh aku bisa jauh darimu manakala di tanah mana pun sepasang kaki ini menapak, langit selalu sama; bertabur bintang dan menuju engkau? Sampai di sini saja pertemuan kita karena walaupun raga kita dekat, aku jutaan planet jauhnya darimu; tak bisa hatimu kusentuh.

            Ini takkan berhasil, apa yang kita paksakan hanya akan berujung kepedihan. Sampai di sini saja, mendengar namamu pun napasku tertahan. Mungkin aku takkan pernah memanggilmu lagi sebab lidahku kelu, menyebut namamu akan mengembalikan seluruh kenangan kita yang begitu utuh. Takkan ada lagi kalimat-kalimatku untukmu, lebih baik bungkam, lebih baik pejam; percakapan kita dalam bentuk apa pun harus usai.

            Kau abadi di dalam hatiku, tetapi fana dalam hidupku. Ucapan selamat tinggal pun rasanya tak akan membantu karena yang kutinggalkan adalah apa-apa yang berkaitan denganmu, tetapi engkau selalu tinggal di hatiku. Jiwa kita telanjur manunggal; apakah tak kaurasakan itu? Kepadamu, selamanya cintaku menuju; engkau yang tunggal dan baka bersama waktu. Namun, sampai di sini saja, cukup sudah aku yakin bahwa ada kita di depan sana.

 

No comments:

Post a Comment

THEME BY RUMAH ES