Wednesday, 30 June 2021

Dunia Fantasi

            “Kamu mau mati?”

            Vela menoleh padaku, dahinya berkerut. Wajahnya mengulum senyum, seperti menahan tawa. Namun, sepertinya dia tidak sanggup menahan tawa renyahnya itu hingga beberapa detik kemudian, aku melihat dia tertawa lepas. Ya Tuhan, sungguh dia adalah sebuah anugerah.

            “Mulut kamu itu harus disekolahin lagi kali, ya,” katanya setelah tawa yang mempermanis dirinya reda.

            Ya, aku tak memungkiri kalau dulu di sekolah, aku adalah murid yang nilai mata pelajarannya selalu di bawah standar. Tentu berbeda dengan dia yang selalu menjadi juara kelas. Lebih dari itu, dia adalah juara umum seangkatan. Ck, apalah aku ini dibanding dirinya yang sempurna otak, hati, dan jiwa?

            Vela menatapku dengan matanya yang menyimpan mimpi begitu tinggi, lalu tersenyum manis, berusaha meyakinkanku. “Oh, Kanda, please, itu cuma wahana. Aku enggak akan mati cuma karena naik itu.”

            “Aku tahu, tapi—”

            “Kan, kamu tahu kalau aku ngajak ke sini karena mau naik wahana baru itu. Selama ini yang menarik buat aku di Dufan, kan, cuma tiga wahana. Tornado, Halilintar, dan Kora-Kora.” Vela menyela kalimatku. Bibirnya agak mengerucut. Aku jadi gemas sendiri ingin menjawil hidungnya yang seperti perosotan. Aku melihatnya menarik napas kemudian dia kembali berkata, “Aku mau naik Baling-Baling itu, Kandaaa. Titik sebesar Dufan dan seisinya!”

            Kontan aku terkekeh. Ada-ada saja apa yang dikatakan gadisku ini. Masalahnya, semenjak dulu, semenjak negara api belum menyerang, aku merasa bahwa saraf takut di dalam diri Vela telah hilang. Dia adalah gadisku yang manis, sekaligus sadis.

Biar kuberi tahu, sekilas informasi saja. Jika kebanyakan perempuan lain akan menjerit ketika melihat kecoak, Vela tidak demikian. Selama kecoak itu hanya berjalan-jalan atau melewati kakinya ketika dia sedang berdiri, dia tetap pada posisi, tidak melengkingkan suara yang memekakkan telinga atau berlari seperti maling yang tertangkap basah. Dia santai saja, tetap melakukan aktivitasnya seolah-olah kecoak itu hanya semut baginya, melintas tanpa perlu dilibas.

Demi nasi goreng buatan Vela yang rasanya jempolan, untung aku sudah terbiasa. Menonton film Final Destination saja dia tertawa. Apalagi, kalau hanya berurusan dengan seekor kecoak. Lalu, apa tadi katanya? Wahana yang selama ini menarik baginya di Dufan hanya Tornado, Halilintar, dan Kora-Kora?

Memang, betul sekali. Kami sudah menaiki ketiga wahana itu. Bahkan, lebih dari sekali. Dia bilang, untuk apa naik wahana lain yang sama sekali tidak menarik—baginya? Buang-buang waktu saja. Jadi, dengan sangat cerdas dia memanfaatkan waktu yang ada untuk lebih dari sekali, menaiki tiga wahana itu.

Sekarang, dia mengatakan ingin naik Baling-Baling. Oke, memang sebelum pergi ke Dufan ini, beberapa hari sebelum berangkat, dia mengatakan kalau dia ingin ke wahana baru. Aku langsung setuju saja. Toh, yang baru itu, kan, Dunia Kartun. Namun, aku memang bodoh. Ketika Vela mengatakan bahwa wahana baru itu adalah Dunia Kartun, aku tak mencari informasi lagi. Lalu, di sinilah kami sekarang.

“Kamu enggak capek emangnya?” Aku berusaha mengulur waktu. Kami baru saja selesai naik Tornado, lalu akan langsung disambung dengan menaiki Baling-Baling? Yang benar saja.

Dengan santai, Vela menoleh padaku, menyunggingkan senyum secantik bidadari. “Enggak, tuh.”

Hmm, gagal sudah rencana pertamaku. Oke, mari coba yang lain. “Gimana kalau kita makan dulu? Ini malah udah agak kesorean buat makan siang, lo, Vel.”

Vela terlihat berpikir. Dia diam beberapa jenak, kemudian mengeluarkan kalimat yang membuatku merasa semakin terbelakang. “Enggak bisa gitu, Vel. Emang, sih, aku ludah lapar, tapi makannya mending nanti deh. Gini, aku dari tadi belum mau makan dan ngelarang kamu makan karena kita naik wahana yang menjungkirbalikkan hidup—eh, tubuh maksudnya. Kalau perut diisi makanan terus langsung naik wahana, nanti yang ada, malah muntah. Makanan itu, kan, rata-rata dicerna selama lima belas menit. Nah, kalau makan dulu, terus nunggu minimal lima belas menit, kelamaan, Kanda. Selama nunggu juga nanti aku malah pengin ngemil soalnya sinyal kenyang itu baru sampai ke otak dua puluh menit setelah makan.”

Ingin rasanya aku menenggelamkan diri ke inti bumi. Gagal sudah semua upayaku. Sungguh, bertahun-tahun bersama Vela, aku tak pernah berhenti dibuat kagum olehnya, juga, tentu saja, dibuat jatuh cinta hingga entah sudah kali keberapa. Meskipun telah lama aku melalui hari yang lebih berwarna—juga bermanfaat dan bersahaja—dengan gadis pintar ini, tetapi hingga detik ini pun, aku tak pernah benar-benar memahaminya. Sungguh. Dia benar-benar misterius. Tak tersentuh.

“Enggak usah kagum gitulah, repot kalau kamu makin cinta sama aku. Nanti kalau susah lupa, kan, bahaya,” seloroh Vela seraya mengedipkan sebelah matanya yang memiliki pupil besar.

Oke, perhatian, kuberi tahu satu lagi. Vela adalah dukun—atau paranormal. Dia benar-benar “orang pintar”. Yah, sejauh ini, itu yang kurasakan. Bagaimana, ya, menjelaskannya? Dia seperti bisa membaca pikiranku. Bahkan, ajaibnya, dia sungguh bisa merasakanku. Hatinya seperti menyatu dengan hatiku. Jiwanya seperti begitu lama mengenalku.

Aku adalah orang yang percaya bahwa kehidupan tidaklah hanya satu rupa. Aku yakin, jiwa kami telah bertemu sebelumnya, entah kapan. Sejak awal menemukannya, aku merasa telah mengenalnya begitu lama. Ketika kali pertama aku mendekatinya, entah mengapa kami kontan akrab satu sama lain. Padahal, kami sama-sama orang asing di kehidupan masing-masing. Namun, kami tak memikirkannya terlalu lama. Kami membiarkan takdir menggerakkan langkah juga masa depan. Kalau boleh aku mengatakan ini, aku percaya di kehidupan setelah ini, aku dan Vela akan bertemu. Tentu saja, kami akan saling mengenal satu sama lain, dengan rasa yang masih ada, dengan jiwa yang memang telah terjalin.

Paham? Jangan ragu untuk berkata tidak sebab aku pun hingga kini masih menolak percaya. Hanya satu yang membuatku masih merasa akalku berguna. Vela pernah mengatakan bahwa hanya akulah lelaki yang satu frekuensi dengannya, yang memiliki sinyal sekuat dirinya, yang mampu mengimbanginya. Ehem, maaf, bukannya sombong. Walaupun IQ-ku tertidur, bukan lagi jongkok, tetapi hanya aku yang bisa menaklukkan Vela, kan? Aku adalah cinta pertamanya. Vela, tentu saja, juga cinta pertamaku. Omong-omong, aku tidak yakin kalau Vela akan bisa mencintai orang lain. Jadi, anggap saja aku adalah cinta pertama, cinta sejati, juga cinta terakhirnya.

Oh, ya, tentu saja aku bercanda mengenai IQ-ku. Aku masih memiliki logika luar biasa yang membuatku tak menjadi budak cinta seperti kaum adam lain di luar sana. Aku dan Vela satu level, sederajat, satu kasta, setara. Apalah itu istilahnya, intinya kami seiya sekata.

Tanpa mengingat beberapa hal tentang dukun di hadapanku ini lebih lama lagi, aku pun membalas tatapan Vela, lalu kami saling melempar senyum dan melangkah bersama menuju antrean Baling-Baling.

“Mantap, enggak salah aku jatuh cinta sama Kakandaku ini.” Vela melirikku jenaka seraya mengulum senyum. Pipinya, di bawah sinar mentari, jadi terlihat semakin memerah. Merona alami, tanpa perlu pemulas pipi.

Aku menoleh padanya seraya menaikkan alis, kemudian menatapnya cukup lama karena masih tidak ada pergerakan di antrean ini. Asal tahu saja, namaku sebenarnya Kanda Andromeda, tetapi gadis yang tingginya tidak mencapai telingaku ini senang betul memanggilku dengan Kakanda, lebih parah lagi—atau mungkin manis?—Kakandaku.

“Apa kamu lihat-lihat? Aku congkel matamu, baru tahu rasa!” semprotnya galak.

“Uh, takut,” sahutku bercanda, Vela hanya tertawa kecil. “Gimana kalau nanti kita naik baling-baling bambu aja?”

“Bercanda kamu!” timpalnya lagi dengan mata yang melotot.

“Emang,” kataku seraya mengedikkan bahu.

Vela tiba-tiba tersenyum sendiri. Dih, ini anak kenapa, ya?              

“Kamu enggak pernah berubah, ya, masih kayak dulu, suka Doraemon,” ujarnya, membuatku malu sekaligus bangga. “Semoga perasaan kamu enggak pernah berubah, ya.”

Hah? Eh, gimana? Aku tidak salah dengar, kan? Vela maju beberapa langkah karena antrean mulai berkurang. Aku langsung menjajarinya. “Yang aku tahu, Vela Fransiska, perasaan itu menembus ruang dan waktu, tidak mudah berubah, juga tidak hilang hanya karena jauhnya langkah.”

Sebelum Vela sempat menjawab, giliran kami pun tiba. Wajah gadis pemberani di sampingku langsung berseri-seri, seperti anak kecil yang senang karena dibelikan mainan. Yah, bagaimanapun, wahana ini juga baginya memang “mainan”. Setelah kami sama-sama duduk, lalu petugas memastikan ikatan di kursi aman dan kuat, aku menatap Vela beberapa detik.

Dia menyadarinya, tentu saja, kemudian bertanya, “Udah siap mati?”

“Tentu,” jawabku seraya terkekeh. “Selama bersamamu, mati pun aku siap kapan saja.”

Vela, bukannya merasa salah tingkah atau apa pun itu berupa reaksi normal perempuan jika mendengar kalimat yang kuucapkan, malah menggelengkan kepala seraya menunjukkan tatapan menuduh. “Ckck, kayak amalmu udah banyak aja.”

Sial. Aku mati kutu. Wahana mulai bergerak, aku jadi tak bisa membalas perkataan Vela. Lagi pula, aku juga tidak tahu sebenarnya harus membalas dengan apa karena memang dosaku sudah menumpuk setinggi Krakatau.

Ketika teriakan sudah terdengar dari sana-sini, aku tetap tak mendengar suara dari sampingku. Kontan aku melirik gadis ajaib di sebelah dan yang kutemukan adalah dia sedang membuka mata dengan wajah takjub, tak berteriak-teriak karena takut. Hadeuh, kapan, sih, aku bisa mendengarnya berteriak ketakutan? Ah, jangankan itu, melihat dia memejamkan mata ketika naik tiga wahana sebelumnya pun, tidak pernah kualami.

Vela, kali ini, sengaja tak membalas tatapanku. Dia membiarkanku memperhatikannya dalam waktu yang cukup lama. Ya, hingga wahana yang kami naiki berhenti beraksi. Setelah membuka pengaman kursi, Vela melirikku seraya berkata, “Nah, aku enggak mati, kan?”

Aku mengedikkan bahu kemudian bertanya, “Yakin enggak mau naik ini lagi? Kok, dilepas itu pengamannya?”

“Lapar,” jawabnya seraya nyengir kuda. Bibirnya yang merah muda alami mempercantik senyum lebarnya.

Aku mengangguk, lalu berseru, “Dasar pawang anakonda!”

Vela hanya meleletkan lidah, semakin membuatku yakin kalau dia memang sudah berbagi tubuh yang sama dengan anakonda. Ya, anakonda. Perut gadis kecilku ini bukan tempat tinggal cacing, tetapi penangkaran anakonda. Aku bilang begitu karena gadis kecilku yang hobi makan dan ngemil ini tetap saja kecil meski yang paling banyak dia masukkan ke dalam tubuh adalah makanan manis.

Seraya berjalan menuju salah satu tempat makan, aku bertanya pada Vela. “Vel, ada enggak sesuatu yang kamu takutkan di dunia ini?” Nah, itulah pertanyaan yang sedari dulu sebenarnya meminta untuk dilontarkan.

“Hmm, apa, ya?” Vela memegang dagu lancipnya. “Kayaknya ada, tapi ....”

“Tapi apa?” tanyaku langsung, begitu semangat karena akhirnya ada yang gadisku takuti.

Dia tersenyum malu-malu, membuatku malah ingin menatapnya begitu lama tanpa memedulikan kata-kata apa yang akan keluar dari bibir tipis mungilnya. Kemudian, seraya menunduk, dia menjawab, “Aku malu bilangnya, Kakanda.”

Ya Tuhan, menggemaskan sekali cinta pertamaku ini. “Kenapa harus malu? Sejak kapan kamu punya rasa malu? Biasanya juga kamu enggak tahu malu, tuh, sama aku,” kelakarku, berusaha membuatnya lebih mudah untuk menjawab.

“Ih, Kanda, aku masih punya rasa malu!” serunya, tak lagi menunduk. Dia kemudian menatap tepat ke manik mataku, mengumpulkan keberanian—atau menepiskan rasa malu yang katanya masih dimilikinya walaupun aku tidak yakin—lalu menyuarakan apa yang ada di benaknya. “Aku takut kalau suatu hari, kamu tidak hanya melihat ke arahku.”

Matanya masih mengunci mataku, sementara aku merasa tiba-tiba kehilangan tempat untuk berpijak. Kenapa rasanya ... aneh? Hmm, aneh bukanlah kata yang tepat, tetapi bodoh amat. Aku tak tahu harus mendeskripsikan apa yang kurasa dengan satu kata. “Maksudnya, kamu takut kehilangan aku, Vel?” tanyaku, meyakinkan diri sendiri.

“Bukan, Kakanda,” bantahnya, membuatku tak lagi bisa merasa percaya diri karena begitu dicintai. “Aku sama sekali tidak takut kehilanganmu. Kalaupun aku suatu hari kehilanganmu, tapi kamu masih selalu melihat ke arahku, bagiku, itu tak masalah.” Dia menarik napas, kemudian melanjutkan dengan suara yang cukup lirih, membuat hatiku terasa perih. “Satu yang aku takutkan adalah ketika kamu tidak hanya melihat ke arahku lagi, ketika suatu hari, saat aku menatap matamu, yang kutemukan adalah sosok lain, bukan hanya aku, atau lebih parahnya, bukan lagi aku.”

***

Ting! Ting! Ting! Ting! Ting!

Berisik! Dengan mata yang masih terpejam, tanganku menggapai-gapai nakas, mencari ponsel yang berbunyi, berisik sekali. Siapa yang mengirim WhatsApp pukul segini? Ck, lagi pula, pukul berapa, sih, ini?

Setelah tanganku menggenggam ponsel, kupaksakan mata untuk membuka perlahan. Hmm, pukul ... empat dini hari! Demi nasi goreng buatan Ve—astaga! Tunggu. Ada yang salah. Sepertinya aku baru saja mengucapkan kalimat terlarang itu, tetapi kapan dan di mana?

Ah, ternyata, dia hadir kembali di mimpiku. Ternyata, aku kembali memimpikannya. Berturut-turut. Dalam seminggu ini, dia selalu datang ke dalam mimpiku. Ya, dia, si gadis impian. Aku tidak lagi bisa menyebutnya sebagai “gadisku” karena ... semuanya telah selesai. Takkan pernah lagi ada nasi goreng buatannya yang rasanya jempolan. Takkan lagi ada—

Ting!

Oh, man, ingin kulempar saja ponsel ini! Namun, itu sama sekali takkan menyelesaikan masalah. Aku membuka panel notifikasi dan oh, hanya ada satu nama yang mengirimkan pesan berkali-kali. Rubi.

Yang?

Yang?

Yang, udah bangun belum, sih?

Andro!

Ini udah jam empat!

Cepet bangun, sejam lagi kita berangkat!

Berangkat? Sebentar. Aku merasa disorientasi. Memangnya aku ada janji akan pergi dengan Rubi? Hari ini? Pukul lima, pula? Ke mana? Liburan begini, kan, enaknya tidur sepanjang hari.

Rubi yang sedang daring dan mengetahui bahwa pesannya sudah centang dua berwarna biru, langsung meneleponku.

Malas-malasan, aku mengangkatnya. “Ha—”

“Yang! Kamu lupa atau gimana, sih?” sembur Rubi sebelum aku sempat mengeluarkan kata meski sepatah. Baru satu suku kata yang kukeluarkan.

Keningku berkerut, tetapi tentu saja Rubi tak dapat melihatnya. Akhirnya aku memutuskan untuk bertanya walaupun risikonya cukup besar. “Ke—”

“Keretanya berangkat jam lima, Andro. Cepet mandi biar kita enggak ketinggalan kereta.”

Tut. Tut.

Panggilan ditutup. Mendengar kata kereta, aku jadi ingat apa yang harus kulakukan hari ini. Menemani Rubi ke Dufan. Dia sudah memintanya sejak sebulan yang lalu, kalau tidak salah, tetapi aku selalu menundanya hingga akhirnya tak ada alasan lagi untuk menolak. Maka, hari inilah tanggalnya, hari inilah aku harus benar-benar memenuhi keinginannya. Aku harus mengorbankan satu hari dari waktu liburan yang tinggal 29 hari, untuk menemani Rubi liburan di Dufan.

Ketinggalan kereta? Seperti lagu masa kecil saja. Bedanya, kereta yang akan kunaiki adalah jurusan Bandung—Jakarta, bukan Bandung—Surabaya. Ah, Jakarta, ya? Kabar terakhir yang kutahu tentang Vela, dia bekerja di kota itu, di kota yang membuatnya begitu sibuk. Sedang apa, ya, dia di sana? Apakah dia tahu jika akhir-akhir ini, setiap hari, dia selalu hadir di dalam mimpiku?

Tak ada apa-apa lagi di antara kami. Tak ada lagi yang memanggilku Kakandaku atau Kakanda. Semua orang yang mengenalku memanggilku dengan Andro, tidak ada yang memanggilku dengan Kanda. Kata mereka, nama Kanda itu aneh dan aku lebih pantas dipanggil Andro. Namun, Vela justru sangat menyukai namaku, sangat senang memanggilku dengan Kanda. Aku, tak bisa disangkal lagi, merasakan getar berbeda ketika dia memanggilku dengan caranya sendiri.

Plak!

Aku menampar pipi sendiri. Sadarlah, wahai diri ini! Rubi, ingat Rubi, ingat perempuan yang sudah menjadi pacarku selama enam tahun itu! Ya Tuhan, mengapa aku masih saja memikirkan Vela? Mengapa dia masih bisa hadir di alam bawah sadarku? Bahkan, berkali-kali, begitu sering, seakan-akan dia memang tak pernah bisa kuhilangkan dari diriku sendiri.

Aku sudah mencoba melupakannya, cinta pertamaku, tetapi entah apa yang terjadi karena hingga detik ini pun, aku merasa masih ada sesuatu yang tertinggal di antara kami. Perasaan? Tentu ... bukan—ah, aku pun masih ragu apakah perasaanku sudah seluruhnya hilang.

Kapan kali terakhir aku melihat gadis itu? Setahun? Dua tahun? Hmm, sepertinya empat tahun yang lalu. Ternyata sudah begitu lama. Ternyata aku sudah terbiasa menjalani hidup tanpanya—meski hidupku terasa tak pernah sama lagi, seperti ada bagian yang kosong dan tak bisa diisi oleh siapa pun.

Bertahun-tahun lalu, aku yang memutuskan untuk pergi, memilih bersama Rubi. Bertahun-tahun lalu, Vela sudah melepaskanku, membiarkanku meninggalkannya tanpa pernah tahu apakah suatu hari aku akan kembali. Vela, gadis mandiri itu, tidak pernah menahanku untuk tetap di sisinya, tidak pernah menuntutku ini-itu, tidak pernah memohonku untuk tetap tinggal di hidupnya. Mungkin karena dia yakin, meskipun aku tak lagi tinggal di hidupnya, aku masih tinggal di hatinya. Ya, itu pun kalau Vela masih membiarkanku tinggal di hatinya yang begitu sulit ditembus.

Aku mencintai Rubi, tak bisa kumungkiri. Namun, aku juga pernah begitu mencintai Vela—atau mungkin ... masih. Aku dan Vela sama-sama tidak pernah saling menghubungi. Sejak hari itu, ketika kami memutuskan untuk menyelesaikan segalanya, kami benar-benar menjalani hidup seperti dua orang asing—dengan perasaan tak pernah merasa asing. Sejak awal, kami tahu bahwa kami saling memiliki arti dalam hidup masing-masing.

Ketika dulu aku memutuskan untuk pergi, Vela hanya mengatakan bahwa apa pun yang kulakukan, dia hanya ingin aku bahagia. Bahkan, jika demi mencapai bahagia itu aku harus menjauh darinya, dia tak keberatan karena baginya, yang terpenting adalah kebahagiaanku.

Ya Tuhan, andai saja dia tahu jika kebahagiaanku adalah dirinya. Andai saja dia tahu jika bahagiaku tak sempurna jika tanpanya. Andai saja dia tahu bahwa yang paling kuiinginkan di dunia ini adalah melihatnya bahagia, melihat senyum dan tawanya yang terlukis sempurna di wajah mungilnya.

Aku tak pernah lagi bisa menjaganya. Aku sudah berjanji untuk menjauh darinya. Namun, aku selalu berharap dia baik-baik saja. Aku yakin dia bisa menjalani hidupnya dengan baik karena telah kutitipkan dia pada Tuhan, sebaik-baiknya penjagaan.

Aku telah menyadari bahwa apa yang ada di antara kami hanyalah kenangan yang tak dapat terulang lagi. Aku telah mengerti bahwa dia memanglah gadis impian, takkan selamanya kumiliki. Aku telah memahami bahwa kami hanya bisa bersama di dalam mimpi, di dunia fantasi.

***

“Andro, ayo!” Rubi menarik lenganku, berjalan cepat-cepat menuju sebuah antrean.

Tunggu, tunggu, itu, kan .... “Istana Boneka?” Kontan aku bergumam.

Rubi menganggukkan kepala. “Iya, ayo cepet,” jawab Rubi. Bibirnya yang dipulas merah kemudian berdecak. “Kamu enggak mau, ya?”

Itu bukan pertanyaan, tetapi tuduhan. Nada bicaranya yang menyiratkan itu. Ya, memang, aku tidak mau. Aku dan Rubi baru saja sampai di Dufan dan Rubi langsung mengajakku memasuki Istana Boneka? Oh, man, yang benar saja! Memangnya aku ini anak TK atau SD, yang kalau setiap kali ke Dufan, wahana yang pertama dan wajib dikunjungi adalah Istana Boneka?

“Beneran enggak mau, ya?” Rubi kembali bersuara, pipinya yang dipulas merah, digembungkan, tanda merajuk.

Aku tidak akan luluh, tentu saja. Sudah bagus dia kutemani ke Dufan. Harusnya dia berperikelelakian untuk setidaknya, tidak memaksaku menuruti keinginannya memasuki Istana Boneka itu. “Aku mau ke toilet,” kataku, menepis tangannya pelan.

“Andro,” panggil Rubi dengan nada suara berbeda ketika aku baru membalikkan badan untuk melangkah menuju toilet.

Dengan terpaksa, aku membalikkan badan lalu bertanya, “Apa?”

Kelopak mata Rubi yang dipulas gradasi warna merah dan merah muda, menutup perlahan sebelum kemudian membuka kembali dan mencari mataku. Selanjutnya, dia bertanya, “Kapan aku jadi satu-satunya?”

Jleb. Pertanyaan Rubi, entah mengapa, rasanya seperti pedang yang tepat menghunus dadaku. Untuk beberapa detik, tak ada yang berkata-kata. Aku belum tahu jawaban apa yang harus kuucapkan untuk pertanyaan Rubi. Aku hanya bisa menelan ludah seraya berharap Rubi tidak benar-benar serius dengan pertanyaannya. Namun, Rubi tidak sedang bercanda. Aku melihat mata Rubi berkaca-kaca. Kalau dia mengedip beberapa kali lagi saja, aku tidak yakin maskaranya tidak luntur.

“Demi Tuhan, Andro, kenapa selama ini di matamu selalu ada perempuan itu?” Suara Rubi bergetar, terdengar frustrasi, terluka, putus asa.

 “A-aku ....” Sial, aku tak bisa mengelak. Sungguh, aku tak tahu harus bagaimana menjelaskannya. Bukannya aku mendadak bodoh, tetapi memang aku sudah bodoh, bukan? Masalahnya, apa yang dikatakan Rubi itu ... sepertinya benar. Mungkin aku yang selama ini tidak menyadarinya. Namun, mengapa Rubi tahu? Mengapa Rubi bisa mengetahui kalau masih ada Vela di antara aku dan dia? Apakah ini yang disebut insting perempuan?

“Aku ke toilet dulu. Tunggu di sini, Rubi. Aku janji bakal nemenin ke Istana Boneka,” kataku, menjanjikan hal yang sebenarnya tak ingin kulakukan, semata-mata demi menghindari drama yang sepertinya akan terjadi beberapa saat lagi jika aku tak cepat-cepat pergi.

Rubi hanya mengangguk. Aku langsung berjalan menjauh darinya. Namun, bukannya langsung ke arah toilet, aku malah berjalan-jalan ke arah lain, sendiri, menikmati sedikit waktu tanpa mendengar ocehan atau melihat tingkah Rubi. Kalau bukan karena kedewasaanku, mungkin aku telah meninggalkannya, tidak bersamanya hingga detik ini. Namun, sudahlah, tak ada yang perlu disesali, semua telah terjadi. Toh, aku mencintai Rubi.

Ah, tetapi sebenarnya ada yang perlu disesali. Vela Fransiska. Banyak yang kusesali tentangnya. Aku menyesal tak selalu ada di sampingnya, tak ada ketika dia membutuhkanku. Aku menyesal tak membuatnya sering tersenyum dan tertawa. Aku menyesal tak membuat hidupnya lebih berwarna. Aku menyesal tak menjadi kesatria selama bersamanya. Aku menyesal ... tak menghabiskan waktu lebih lama dengannya.

Andai saja, andai saja suatu hari nanti aku bisa bertemu dengannya. Berpapasan tanpa dia melihatku pun, tak apa. Sungguh. Satu yang paling penting, aku bisa melihatnya untuk kali terakhir, melihat dirinya seutuhnya, di dunia nyata, bukan dalam mimpi belaka. Namun, sepertinya itu tidak mungkin karena yah, hanya keajaiban yang bisa mempertemukanku dengannya. Masalahnya, sejak zaman dahulu kala ketika Hashirama dan Madara masih bersahabat, aku tidak percaya pada keajaiban. Lebih tepatnya, aku menolak percaya. 

Langkahku terhenti. Fokus, fokus, fokus! Aku ke sini bersama Rubi, menemani Rubi, tetapi mengapa sedari tadi yang ada di benakku adalah Vela, Vela, dan Vela? Lalu, yang kulihat dari kejauhan itu juga seperti Vela. Dasar, sepertinya gadis itu memang ada di mana-mana, mampu lintas dimensi, dari dunia mimpi lalu menginjakkan kaki di sini, di Dunia Fantasi.

Hei, tetapi ... tunggu. Sepertinya ... itu benar-benar Vela. Aku bergegas melangkah, mendekati sebuah antrean. Mataku yang menyipit berusaha melihat dengan jeli, tak cukup untuk meyakinkan diri bahwa yang kulihat itu adalah Vela.

Tidak mungkin. Tidak mungkin Tuhan sebaik ini hingga bermurah hati mempertemukan aku yang berlumur dosa dengan gadis malaikat jelita. Namun, ketika aku mencoba mendongak seraya tetap melangkah, yang kulihat adalah wahana Baling-Baling.

Hatiku berdesir. Tidak salah lagi. Gadis yang berdiri di antrean paling belakang itu, yang memakai ransel kecil yang sama dengan yang dipakai di dalam mimpiku, adalah gadis—oh Tuhan, maaf, aku tahu dia bukan gadisku lagi. Aku tersenyum miris lalu mempercepat langkah.

Dengan jantung yang berdebar, aku masuk ke antrean Baling-Baling, berdiri beberapa langkah di belakang seorang gadis pemberani. Tentu saja, aku melangkah dengan amat sangat pelan ketika mulai memasuki antrean. Tidak lain dan tidak bukan, demi melenyapkan tanda-tanda kehadiranku, demi meredam suara alas kakiku.

Aku masih berusaha menenangkan jantung yang terus bertalu. Demi baling-baling bambu Doraemon, kali ini, sungguh, aku tak menolak percaya. Keajaiban itu ada, nyata, senyata gadis yang ada di depanku sekarang. Sungguh, Tuhan, ampunilah aku yang sempat ragu akan takdir indah-Mu.

Ya Tuhan, Engkau memang Mahabesar. Maafkan aku yang tak bisa menepati janji.

Bagaimana pun, ternyata aku begitu senang hidup di dunia mimpi, dunia fantasi.

No comments:

Post a Comment

THEME BY RUMAH ES