Sunday, 25 July 2021

Sempena Terakhir

Ujungnya berakhir, seperti yang kutahu

Tak ada warna getir meski gurat-gurat

Khawatir kentara melekat sebab ingat

Sebuah sempena terakhir, tentangmu


Aku menunggu, lalu maafmu yang sungguh

Malah membuatku tanpa henti kasar memisuh

Air mata tak terbendung, tetapi tawa pun berdengung

Aduhai, kita sama-sama seketika termenung, bingung




Dua bola yang jernih itu memaling, tatkala kutanya

"Sebenarnya kau tak mau, kan?" layaknya dahulu kala

Ketika kau berusaha membuatku percaya dengan bicara

"Aku menyayanginya" seolah-olah aku mutlak buta


Sekedipan mata saja, aku mampu melihat bulir yang akan

Perih memelintir, membobol tangguhnya aku; kau demikian

Tenggelam setelah derana dalam waktu lama, dalam riuhnya kita

Di jemala; siang begitu sepi dan malam takkan pernah tak panjang


"Kalau saja bisa lebih berani" sebab kita sama-sama pengecut

"Sebagian hal di dunia ini bisa dicegah untuk terjadi" dan menciut

Ke dalam titik takdir yang nadir, hingga aku tak terpikir tuk mangkir

Dari hidup yang penuh ketar-ketir akan masa depan dan hari terakhir


Ada luka di sebalik netramu manakala yang kudengar adalah

"Bukankah kaubilang akan menepati janjimu sendiri?"

Ya, kasihku, aku tentu akan melakukannya, demi dirimu, tetapi

Bagaimana dengan hidup yang mungkin tidak lagi pernah indah?


Engkau nanti masihkah akan kujumpai

Dalam gelap malam maupun hening kelam?

Akulah suatu hari masih akan kaucari

Di jarak antarbintang jua sunyi jalan pulang?


Ini yang terakhir, takkan lagi engkau hadir

Takusah lagi mampir, aku masih terpuntir

Realitas; kau sangsi saat memilih sebuah akhir

Sementara tentangku kautahu selalu yang pandir



No comments:

Post a Comment

THEME BY RUMAH ES